Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Asal Usul Tarian Kabasaran, Ritual Perang Suku Minahasa

Jendry Dahar • Rabu, 7 Agustus 2024 | 23:28 WIB

 

 

Photo
Photo

 

MANADOPOST.ID—Suku Minahasa menyimpan beragam kearifan lokal yang menarik. Salah satunya Tari Kabasaran. Begini asal usulnya.

 

Tarian tradisional yang satu ini bisa dikatakan cukup ekstrem karena menggunakan senjata tajam. Inilah tari Kabasaran, tarian perang dari Minahasa.

Salah satu tarian tradisional dari Sulawesi Utara adalah Tari Kabasaran. Ini adalah tarian perang masyarakat Minahasa pada zaman dahulu.

 

Merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa yang diangkat dari kata Wasal. Wasal artinya ayam jantan yang sudah dipotong jenggernya agar bisa menjadi ayam yang lebih garang dalam bertarung.

Tari Kabasaran diiring oleh suara tambur atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut dengan Pa ‘Waselan. Para penarinya disebut dengan Kawasaran yang artinya menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung. Tarian ini hampir mirip dengan tarian Cakalele dari Maluku.

 

Kata Kawasalan kemudian berkembang menjadi “Kabasaran” yang menjadi gabungan dari dua kata yaitu “Kawasal ni Sarian”. Kata “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerakan tarian. Sedangkan kata “Sarian” berarti pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa.

 

Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi huruf “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia. Namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para pembesar.

 

Kesenian tradisional yang satu ini sudah ada sejak abad ke-16, menggambarkan semangat patriotik masyarakat Minahasa dalam membela dan mempertahankan tanah Minahasa dari ancaman musuh.

 

Pada zaman dahulu, para penari Kabasaran hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun dalam kehidupan sehari-hari, mereka adalah petani dan rakyat biasa. Jika Minahasa sedang berada dalam keadaan perang, maka penari Kabasaran menjadi Waraney.

Tarian jurus memotong dengan pedang dan menusuk dengan tombak disebut dengan Mahasausau, di mana sau-sau sendiri artinya menebas dengan pedang. Namun kedua penari berdiri berjauhan.

 

Pada tarian tersebut, kedua penari pura-pura saling motong dengan pedang dan menusuk dengan tombak dalam iringan langkah irama 4/4 sesuai bunyi tambor dengan raut wajah yang ganas dan mata yang melotot.

 

Para penari Tari Kabasaran tidak menyanyi, tapi menari saling berhadapan dengan pasangan yang dipilih sendiri oleh para penari. Penari yang terluka biasanya disebabkan karena kesalahannya sendiri. Dalam hal ini, penari kurang menguasai sembilan jurus memotong dengan pedang dan sembilan jurus tusukan tombak.

 

Pedang tidak boleh digunakan untuk menusuk atau menangkis. Hanya tombak yang menusuk dan hanya perisai yang menangkis. Pedang disebut dengan Santi, tombak disebut dengan Wengkou, dan perisai disebut dengan Kelung. Dalam tarian itu, tidak boleh menggunakan Wentis (panah) ataupun Papati (kampak).

Selain menggunakan kemeja dan celana merah, penari juga menggunakan kain tenun Minahasa yang disebut dengan Pasolongan, Tinonton, dan Patola.

 

Kemudian, penari juga menggunakan topi berhiaskan paruh burung Uwak. Busana Tari Kabasaran secara umum disebut dengan Pakeyan Nuak. Semua perlengkapan busana Kabasaran termasuk dalam gelang, kalung, topi, dan senjata tajam.

 

Tarian Kabasaran harus bisa mengejutkan penonton sehingga penonton mengucapkan kata “arotetei, okela” yang berarti “aduh bukan main, astaga”. Di sinilah letak penilaian keindahan Tari Kabasaran. (*)

Editor : Jendry Dahar
#Tarian kabasaran