MANADOPOST.ID—Terletak di pusat kota Amurang, Kelurahan Uwuran Satu, Benteng Portugis adalah saksi bisu dari sejarah panjang kawasan Sulawesi Utara. Hanya satu jam perjalanan dari Kota Manado atau 1,5 jam dari Bandara Internasional Sam Ratulangi, objek wisata ini mudah diakses dan terletak di kompleks pasar Amurang, memudahkan pengunjung untuk menemukannya.
Dari luar, Benteng Portugis tampak menyerupai huruf 'D', berdiri di atas lahan seluas 25m x 50m dengan tinggi sekitar 4 meter. Meski dulunya area benteng ini jauh lebih luas, kerusakan akibat peperangan, pembangunan kota, dan pertambahan populasi telah mengecilkan ukurannya. Di samping kiri belakang benteng, terdapat tangga yang cukup menanjak, disesuaikan dengan ukuran orang Eropa pada masa itu.
Benteng ini dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1512 di mulut Teluk Amurang di bawah pimpinan Anthony d’Abreu. Tugas utamanya adalah sebagai benteng pertahanan dari perompak. Seiring waktu, Spanyol juga membangun benteng mereka sendiri yang dikenal sebagai 'New Spain', namun benteng tersebut hancur akibat peperangan. Sisa-sisa Benteng Spanyol dapat ditemukan di pesisir pantai dekat Gereja GMIM Kawangkoan Bawah.
Bahan dasar benteng ini terbuat dari batu karang yang dicampur dengan putih telur burung maleo, yang dulunya melimpah di wilayah Amurang. Pemburuan telur burung maleo menyebabkan hampir punahnya spesies ini. Benteng ini juga dulunya dilengkapi dengan beberapa meriam, yang sekarang tersebar di berbagai lokasi, termasuk Lapangan Kompi Cobra C712 dan Kodim 131 Santiago Manado.
Pintu masuk benteng yang sudah tertutup selama puluhan tahun menyimpan berbagai cerita misteri. Menurut juru pelihara, Bernard Rumondor, berbagai alat penerangan seperti lilin dan lampu senter selalu mati saat berada di dalam benteng, menambah aura mistis tempat ini. Dinding-dinding benteng yang dulunya memuat peta kota Amurang dan Minahasa kini telah rusak.
Masyarakat sekitar percaya bahwa harta benda Portugis, Spanyol, dan Belanda masih tersembunyi di dalam benteng. Penemuan barang-barang kuno seperti uang logam dan artefak Belanda oleh penduduk setempat mendukung kepercayaan ini. Beberapa benda bersejarah ini dirawat oleh sejarawan Cornelles Elias.
Benteng Portugis memiliki lorong bawah tanah yang konon menghubungkan dengan kapel kuno di bawah Gereja GMIM Syaloom Sentrum Amurang. Lorong-lorong lainnya berakhir di dekat Sungai Ranowangko dan Pantai Amurang, namun pintu keluarnya sudah tertutup.
Setelah Spanyol menguasai benteng ini dari Portugis antara tahun 1560-1660, benteng ini mengalami berbagai perubahan, termasuk pembongkaran pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Daendels dan pemerintahan Jepang. Pada abad ke-17, Belanda juga menduduki benteng ini, menjadikannya pusat pemerintahan lokal.
Benteng Portugis Amurang, dengan segala sejarah dan misterinya, menjadi tempat yang menarik untuk dijelajahi. Setiap sudutnya menyimpan kisah yang membentang dari zaman kolonial hingga kini, menjadikannya bagian penting dari warisan sejarah Sulawesi Utara. (jen)
Editor : Jendry Dahar