MANADOPOST.ID—Minahasa, salah satu daerah di Sulawesi Utara yang kaya akan sejarah, budaya, dan mitologi, memiliki banyak keluarga asli yang telah mendiami wilayah ini selama berabad-abad. Keluarga-keluarga ini tidak hanya memainkan peran penting dalam menjaga tradisi, tetapi juga dalam meneruskan kisah leluhur mereka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut mitologi Minahasa, asal-usul orang Minahasa dapat ditelusuri hingga ke pasangan leluhur, Toar dan Lumimuut, yang diyakini tinggal di sekitar pegunungan Wulur Mahatus. Pegunungan ini diperkirakan berada di perbukitan sekitar Gunung Soputan, sebuah gunung yang menjadi simbol kekuatan dan ketahanan bagi masyarakat Minahasa. Kisah Toar dan Lumimuut bukan hanya menjadi bagian dari mitos, tetapi juga menjadi dasar identitas dan kebanggaan bagi orang Minahasa hingga kini.
Keluarga-keluarga asli Minahasa seperti Wulur dan Mamahit memiliki keterikatan yang mendalam dengan cerita ini. Nama keluarga Wulur, misalnya, dianggap memiliki hubungan historis dengan nama Wulur Mahatus, yang menggambarkan pentingnya warisan leluhur dalam kehidupan mereka. Keluarga Wulur, yang berasal dari suku Tontemboan, telah menetap di wilayah Minahasa sejak abad ke-17 dan terkenal karena dedikasi mereka dalam menjaga tradisi leluhur.
"Mitologi Toar dan Lumimuut adalah bagian dari identitas kami yang sangat kami banggakan," kata Alex Wulur, salah satu anggota keluarga. "Kisah ini mengingatkan kami akan asal-usul kami dan pentingnya menjaga warisan budaya yang telah diturunkan oleh leluhur kami."
Sejarah keluarga asli Minahasa juga erat terkait dengan berbagai upacara adat dan ritual yang masih dilakukan hingga kini. Salah satu ritual yang masih lestari adalah Mapalus, sebuah sistem gotong royong yang mencerminkan semangat kebersamaan, yang diwariskan oleh Toar dan Lumimuut kepada anak-cucu mereka. Melalui Mapalus, masyarakat Minahasa menjaga nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan yang telah menjadi bagian dari identitas mereka selama berabad-abad.
Selain itu, warisan sejarah keluarga asli Minahasa juga dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan arkeologi dan situs bersejarah di daerah tersebut. Situs Waruga di Sawangan, Minahasa Utara, misalnya, adalah salah satu peninggalan yang menjadi saksi bisu dari kehidupan masyarakat Minahasa di masa lampau. Waruga adalah kuburan batu yang digunakan oleh suku-suku asli Minahasa untuk menguburkan orang yang telah meninggal dengan cara yang unik, melambangkan perjalanan kembali ke asal muasal mereka.
Dengan sejarah, mitologi, dan warisan budaya yang kaya, keluarga-keluarga asli Minahasa tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempertahankan identitas mereka sebagai pewaris langsung dari Toar dan Lumimuut. Mereka terus merawat dan melestarikan nilai-nilai yang telah membentuk masyarakat Minahasa hingga saat ini.
Sebagai penutup, Dr. Arnold Lumempow, seorang sejarawan Minahasa, menegaskan bahwa memahami dan melestarikan mitologi serta sejarah keluarga asli Minahasa adalah kunci untuk mempertahankan warisan budaya daerah. "Keluarga asli Minahasa bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penjaga mitos yang telah membentuk identitas kita sebagai orang Minahasa. Melalui mereka, kita terus menghidupkan kisah Toar dan Lumimuut dalam setiap aspek kehidupan kita." (jen)
Editor : Jendry Dahar