MANADOPOST.ID-Perkembangan teknologi dan akses komunikasi menjadi indikator penting dalam memajukan kehidupan masyarakat di desa dan kelurahan. Berdasarkan data Pendataan Potensi Desa (PODES) 2024, Sulawesi Utara menunjukkan capaian yang menggembirakan dalam hal konektivitas digital dan sarana komunikasi di tingkat desa/kelurahan. Meski demikian, masih terdapat kesenjangan yang menjadi pekerjaan rumah bersama.
Sebanyak 28,40% desa/kelurahan di Sulawesi Utara memiliki sinyal telepon seluler sangat kuat, menunjukkan akses komunikasi yang optimal bagi masyarakatnya. Sementara itu, 55,88% desa/kelurahan memiliki sinyal kuat, sehingga mayoritas wilayah dapat terhubung dengan baik. Namun, tantangan masih terasa di beberapa wilayah, dengan 14,47% desa/kelurahan memiliki sinyal lemah dan 1,25% desa/kelurahan tidak memiliki akses sinyal sama sekali. Kondisi ini menuntut langkah konkret dari pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan bahwa tidak ada desa yang tertinggal dalam akses komunikasi.
Di sisi internet, Sulawesi Utara berhasil menunjukkan capaian luar biasa. Sebanyak 95,43% desa/kelurahan telah terjangkau jaringan 4G/5G, memberikan kecepatan tinggi untuk mendukung aktivitas digital masyarakat. Meski demikian, 2,53% desa/kelurahan masih bergantung pada jaringan 3G/H/H+, dan 1,16% desa/kelurahan masih menggunakan jaringan 2G/E/HPRS. Tidak kalah penting, 0,88% desa/kelurahan belum memiliki akses internet, menjadi sinyal bahwa pembangunan infrastruktur digital harus terus didorong.
Tidak hanya dalam hal jaringan, sarana komunikasi lainnya juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Berdasarkan data PODES 2024:
- 13,11% desa/kelurahan memiliki warung internet (warnet), memberikan alternatif akses digital bagi masyarakat yang belum memiliki perangkat pribadi.
- 5,66% desa/kelurahan memiliki kantor pos atau rumah pos, meskipun peran layanan ini telah tergantikan oleh teknologi modern, tetapi tetap relevan untuk kebutuhan tertentu.
- 2,18% desa/kelurahan mendapat layanan pos keliling, mempermudah pengiriman surat dan barang ke daerah terpencil.
- 7,51% desa/kelurahan memiliki perusahaan jasa ekspedisi swasta, yang membantu memenuhi kebutuhan logistik masyarakat.
Kemajuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi Utara terus bergerak menuju era digital. Namun, tantangan berupa kesenjangan akses di desa-desa tertentu tetap menjadi perhatian. Dengan hanya 1,25% desa tanpa sinyal telepon seluler dan 0,88% desa tanpa internet, angka ini menjadi peluang bagi pemerintah dan sektor swasta untuk memperluas infrastruktur komunikasi dan digital.
Selain itu, keberadaan fasilitas seperti warnet, kantor pos, dan jasa ekspedisi menunjukkan bahwa masyarakat desa terus memanfaatkan berbagai sarana komunikasi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan untuk meningkatkan akses, baik melalui investasi infrastruktur maupun penyediaan layanan digital yang lebih terjangkau.
Untuk memastikan pemerataan akses komunikasi dan konektivitas digital, berikut langkah yang dapat diambil:
- Pengembangan Infrastruktur: Mempercepat pembangunan menara BTS di wilayah dengan sinyal lemah atau tanpa sinyal.
- Peningkatan Teknologi: Mendorong jaringan internet 4G/5G ke seluruh wilayah desa di Sulawesi Utara.
- Kolaborasi Sektor Publik dan Swasta: Mendorong kerjasama antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan perusahaan ekspedisi untuk meningkatkan layanan di wilayah terpencil.
- Pemberdayaan Masyarakat: Meningkatkan literasi digital masyarakat desa untuk memanfaatkan potensi teknologi secara optimal.
Kemajuan ini bukan hanya menjadi cerminan kesuksesan, tetapi juga pengingat bahwa setiap desa berhak mendapatkan akses komunikasi yang setara untuk mendukung kesejahteraan masyarakatnya.(pr)
Editor : Pratama Karamoy