Masyarakat Sulawesi Utara Terlibat Aktif dalam Mitigasi Bencana Alam
Pratama Karamoy• Jumat, 10 Januari 2025 | 16:16 WIB
Photo
MANADOPOST.ID-Data terbaru menunjukkan bahwa hingga April 2024, sebanyak 56,20% desa/kelurahan di Sulawesi Utara telah memiliki upaya antisipasi atau mitigasi bencana alam. Langkah-langkah mitigasi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana yang kerap melanda wilayah rawan di Sulawesi Utara. Upaya tersebut mencakup:
Pembuatan, Perawatan, dan Normalisasi Sungai, Kanal, dan Saluran Air Sebanyak 747 desa/kelurahan telah berinisiatif melakukan normalisasi sungai dan kanal untuk mencegah banjir, salah satu bencana yang paling sering terjadi di wilayah Sulawesi Utara, terutama di daerah dataran rendah atau dekat pesisir.
Sistem Peringatan Dini Bencana Alam Sekitar 315 desa/kelurahan telah memasang sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi bencana seperti tanah longsor atau banjir bandang. Langkah ini penting mengingat kondisi geografis Sulawesi Utara yang berbukit-bukit dan memiliki curah hujan tinggi.
Rambu-Rambu dan Jalur Evakuasi Sebanyak 350 desa/kelurahan telah menyediakan rambu-rambu dan jalur evakuasi yang strategis. Hal ini sangat krusial, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap gelombang pasang laut dan tsunami.
Perlengkapan Keselamatan Sebanyak 129 desa/kelurahan telah dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan seperti jaket pelampung, tali penyelamat, dan alat-alat evakuasi lainnya untuk situasi darurat.
Sistem Peringatan Dini Tsunami Mengantisipasi risiko tsunami, sebanyak 61 desa/kelurahan telah mengembangkan sistem peringatan dini, mengingat posisi Sulawesi Utara yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).
Photo
Kejadian Bencana di Sulawesi Utara Tahun 2024
Di sisi lain, data menunjukkan bahwa 33,08% desa/kelurahan di Sulawesi Utara mengalami bencana alam pada periode Januari hingga April 2024. Jenis bencana yang paling sering terjadi meliputi:
Banjir Banjir merupakan bencana yang paling banyak terjadi, melanda 258 desa/kelurahan di Sulawesi Utara. Hal ini sering kali dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi, tersumbatnya aliran sungai, serta aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan.
Tanah Longsor Sebanyak 162 desa/kelurahan mengalami tanah longsor. Kondisi ini umumnya terjadi di wilayah perbukitan dengan struktur tanah yang rentan terhadap pergerakan, terutama setelah hujan deras.
Gelombang Pasang Laut Sebanyak 55 desa/kelurahan terdampak gelombang pasang laut. Daerah pesisir seperti Bitung dan Minahasa Utara menjadi lokasi yang paling rawan.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar desa/kelurahan di Sulawesi Utara telah melakukan upaya mitigasi, tantangan bencana alam tetap signifikan. Langkah-langkah strategis yang perlu terus dikembangkan antara lain:
Peningkatan Infrastruktur Mitigasi: Perluasan cakupan normalisasi sungai dan kanal untuk meminimalkan risiko banjir di wilayah rawan.
Edukasi dan Simulasi Bencana: Masyarakat perlu diberdayakan melalui pelatihan dan simulasi evakuasi, sehingga mereka lebih siap menghadapi situasi darurat.
Pembangunan Sistem Informasi Bencana: Mengintegrasikan teknologi dalam sistem peringatan dini, sehingga informasi dapat disampaikan lebih cepat dan akurat.
Kolaborasi Antarpihak: Pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk memastikan keberlanjutan program mitigasi.
Langkah proaktif ini menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko bencana sekaligus melindungi masyarakat dan aset di Sulawesi Utara.(pr)