MANADOPOST.ID - Perekonomian Sulawesi Utara terus menunjukkan geliat pertumbuhan yang menjanjikan, terutama di sektor manufaktur. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, Provinsi Sulawesi Utara dihuni oleh 12.041 unit Industri Mikro dan Kecil (IMK) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Jumlah ini menegaskan posisi industri kecil sebagai salah satu pilar penting penggerak ekonomi daerah, terutama di sektor riil dan penguatan usaha skala rumah tangga.
Sementara itu, jumlah Industri Besar dan Sedang (IBS) tercatat masih sangat terbatas, hanya 44 unit untuk seluruh provinsi. Jumlah ini menunjukkan bahwa transformasi industri dari skala kecil ke menengah dan besar masih menjadi tantangan serius yang perlu dijawab oleh para pemangku kepentingan.
Konsentrasi Industri Besar di Kota
Kota Manado menduduki peringkat pertama sebagai wilayah dengan jumlah industri besar dan sedang terbanyak. Disusul oleh Bitung, Tomohon, dan Kotamobagu, empat kota ini menjadi pusat pertumbuhan industri formal berskala menengah dan besar, yang umumnya memiliki modal, tenaga kerja, dan teknologi yang lebih mapan.
Salah satu faktor utama dari dominasi kota dalam sektor IBS ini adalah tersedianya infrastruktur yang lebih lengkap, seperti listrik, air, akses jalan, serta kedekatan dengan pelabuhan dan pusat distribusi. Hal ini memudahkan arus logistik dan menekan biaya produksi, sehingga lebih menarik bagi pelaku industri berskala besar untuk beroperasi.
Di sisi lain, sejumlah kabupaten seperti Bolaang Mongondow Utara, Kepulauan Sitaro, dan Bolaang Mongondow Timur tercatat tidak memiliki satupun industri besar maupun sedang. Fakta ini mencerminkan masih adanya kesenjangan pembangunan sektor industri antarwilayah, khususnya antara daerah kepulauan dan daerah daratan utama.
Baca Juga: Daerah Mana yang Mendominasi Industri di Sulawesi Utara?
Industri Mikro dan Kecil Tersebar Merata
Berbeda dengan industri besar, industri mikro dan kecil justru berkembang secara masif dan lebih merata. Kabupaten Minahasa menjadi wilayah dengan jumlah IMK tertinggi di Sulut, menyumbang angka paling signifikan dalam total 12.041 unit tersebut. Ini menandakan bahwa masyarakat Minahasa sangat aktif dalam kegiatan usaha produksi berskala kecil, baik dalam bentuk home industry, kerajinan, makanan olahan, hingga bengkel dan jasa teknik.
Kota-kota lain seperti Manado, Bitung, dan Tomohon juga memiliki kontribusi tinggi dalam jumlah IMK. Namun, meskipun secara jumlah besar, tantangan utama dari sektor IMK adalah keberlanjutan usaha, daya saing produk, dan akses terhadap pembiayaan maupun teknologi yang memadai.
Sebaliknya, Kepulauan Sitaro mencatat jumlah IMK paling sedikit, hanya 133 unit. Kondisi geografis kepulauan, keterbatasan infrastruktur, serta skala pasar lokal yang kecil kemungkinan menjadi faktor utama rendahnya aktivitas industri mikro di wilayah ini.
Baca Juga: Distribusi Listrik Sulawesi Utara: Ketimpangan Antara Kota dan Daerah
Perbedaan yang mencolok antara pertumbuhan industri mikro dan keterbatasan industri menengah-besar menunjukkan bahwa Sulawesi Utara masih berada dalam fase awal pengembangan industri yang terintegrasi. Ketergantungan yang tinggi pada sektor primer seperti pertanian dan perikanan juga membuat diversifikasi ekonomi ke sektor manufaktur menjadi hal yang sangat penting.
Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana mendorong UMKM naik kelas. Hal ini meliputi dukungan dalam bentuk pelatihan manajemen usaha, penyediaan akses pembiayaan murah, pengembangan kawasan industri kecil, serta penyederhanaan regulasi usaha. Di sisi lain, perlu juga disiapkan kebijakan khusus yang mendorong investasi sektor industri besar di luar kota-kota utama, terutama di wilayah potensial seperti Minahasa Selatan, Minahasa Utara, dan Bolmong Raya.
Pembangunan kawasan industri berbasis potensi lokal, seperti hilirisasi hasil pertanian dan perikanan, dapat menjadi strategi jangka panjang. Pemerataan infrastruktur dasar seperti listrik, jalan, dan internet di wilayah kepulauan juga perlu menjadi prioritas agar industri tidak hanya tumbuh di kota, tetapi menjangkau seluruh pelosok Sulawesi Utara.
Data industri manufaktur tahun 2024 menjadi cerminan penting bagaimana ekonomi Sulawesi Utara mulai bergerak dari pola konsumsi ke produksi. Meski perkembangan industri mikro menunjukkan optimisme tinggi, perhatian terhadap penguatan industri menengah dan besar sangat diperlukan. Tanpa transformasi struktural yang menyeluruh, sektor manufaktur Sulut akan sulit bersaing di level nasional maupun global.(pr)
Editor : Pratama Karamoy