MANADOPOST.ID - Pertumbuhan sektor pariwisata Sulawesi Utara sepanjang tahun 2024 menunjukkan sinyal positif, tercermin dari meningkatnya jumlah akomodasi, kamar, dan tempat tidur hotel berbintang yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, total hotel berbintang di Sulut pada tahun 2024 mencapai 58 akomodasi, meningkat dari 42 hotel pada tahun 2019. Bersamaan dengan itu, jumlah kamar hotel naik menjadi 4.926 unit dan tempat tidur menjadi 6.919 unit.
Kota Manado masih memegang posisi sebagai pusat utama perhotelan dengan 31 hotel bintang pada 2024, menyediakan 3.273 kamar dan 4.524 tempat tidur, menunjukkan pertumbuhan dari tahun 2019 yang tercatat ada 29 hotel. Namun yang menarik, wilayah di luar Manado mulai menunjukkan geliat peningkatan.
Hotel Tertarik ke Wilayah Kabupaten
Kabupaten Minahasa Utara mencatat lonjakan signifikan, dari 3 hotel bintang pada 2019 menjadi 10 hotel pada 2024, dengan 633 kamar dan 769 tempat tidur. Kabupaten Minahasa juga mengalami pertumbuhan dari 4 menjadi 6 hotel, serta peningkatan kapasitas kamar dari 213 ke 431, dan tempat tidur dari 344 ke 677 unit.
Kepulauan Sangihe, yang sebelumnya belum tercatat memiliki hotel bintang pada 2019, kini memiliki 2 hotel, menambah 140 kamar dan 244 tempat tidur ke dalam kapasitas akomodasi daerah.
Kota Tomohon juga mencatat perkembangan menggembirakan. Setelah nihil hotel bintang pada 2019, kini terdapat 1 hotel berbintang dengan 57 kamar dan 79 tempat tidur di 2024. Hal ini memberi sinyal positif terhadap upaya menjadikan Tomohon sebagai destinasi wisata utama berbasis alam dan budaya.
Kota Bitung dan Kotamobagu pun mengalami pertumbuhan meski dalam jumlah moderat. Bitung kini memiliki 4 hotel dengan 143 kamar, meningkat dari 3 hotel di 2019. Kotamobagu tumbuh dari 2 menjadi 3 hotel, serta menambah kapasitas kamar dan tempat tidur menjadi 166 dan 272 unit.
Namun, beberapa daerah seperti Bolaang Mongondow Raya, Kepulauan Talaud, Kepulauan Sitaro (Siau Tagulandang Biaro), dan Minahasa Tenggara masih belum mencatat kehadiran hotel bintang hingga 2024. Hal ini menunjukkan perlunya strategi akseleratif untuk mendorong investasi sektor perhotelan di wilayah-wilayah tersebut.
Tren peningkatan ini merupakan respons atas berkembangnya sektor pariwisata Sulut, termasuk perbaikan infrastruktur, promosi destinasi, dan peningkatan konektivitas. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana mendistribusikan fasilitas akomodasi secara lebih merata, terutama ke daerah-daerah dengan potensi wisata yang belum tergarap maksimal.
Strategi pembangunan ke depan perlu difokuskan pada pemicu ekonomi lokal berbasis pariwisata, melalui insentif kepada investor, pelatihan SDM, serta promosi destinasi di luar Manado. Dengan semakin tersebarnya akomodasi, maka perputaran ekonomi daerah pun akan semakin kuat.(pr)
Editor : Pratama Karamoy