MANADOPOST.ID - Bandara Internasional Sam Ratulangi, pintu gerbang utama Provinsi Sulawesi Utara, menunjukkan geliat signifikan sepanjang tahun 2024. Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut mengungkap potret dinamis penerbangan, baik domestik maupun internasional, yang mencerminkan efisiensi, tantangan, serta potensi besar sektor transportasi udara di Sulut.
Dominasi Domestik, Internasional Mulai Bangkit
Selama 2024, tercatat 7.129 penerbangan domestik tiba dan 7.130 berangkat dari Bandara Sam Ratulangi. Selisih hanya satu penerbangan antara kedatangan dan keberangkatan mencerminkan tingkat efisiensi penjadwalan dan pengelolaan lalu lintas udara yang tinggi.
Di sektor internasional, terdapat 787 pesawat datang dan 831 pesawat berangkat. Kelebihan jumlah keberangkatan menunjukkan adanya permintaan yang tumbuh untuk rute ke luar negeri, terutama ke negara-negara seperti Singapura dan Malaysia.
Baca Juga: Pariwisata Bangkit! Kunjungan Turis ke Sulawesi Utara Terus Naik 3 Tahun Berturut-turut
Pola Menarik Sepanjang Tahun
Bulan Agustus dan Desember menjadi periode tersibuk untuk penerbangan domestik, dengan angka mendekati atau melampaui 700 penerbangan per bulan. Kondisi ini berkaitan dengan musim liburan dan arus mudik, memperkuat peran bandara sebagai simpul mobilitas utama di kawasan timur Indonesia.
Sebaliknya, bulan Juli mencatat anomali signifikan, dengan hanya 108 penerbangan domestik baik kedatangan maupun keberangkatan. Penurunan tajam ini kemungkinan besar berkaitan dengan pembatasan operasional atau cuaca ekstrem yang memengaruhi jadwal penerbangan.
Aktivitas penerbangan domestik dari Januari hingga Juni berlangsung cukup stabil, berada di kisaran 500–686 penerbangan per bulan, menandakan rutinitas perjalanan bisnis dan antarwilayah yang tetap berjalan normal.
Penerbangan Internasional: Puncak di Akhir Tahun
Tren penerbangan internasional menunjukkan peningkatan menjelang akhir tahun. November dan Desember mencatat aktivitas tertinggi, dengan 90–96 pesawat datang dan 95–98 pesawat berangkat setiap bulannya. Hal ini selaras dengan musim liburan akhir tahun dan pelaksanaan event pariwisata.
Sebaliknya, periode April hingga Juli mengalami penurunan, dengan April mencatat 51 kedatangan dan Juli menjadi bulan terendah dengan hanya 9 pesawat datang. Ini menunjukkan bahwa low season masih sangat memengaruhi mobilitas internasional di wilayah ini.
Pariwisata dan Ekonomi Terkoneksi
Kenaikan 5,6% jumlah keberangkatan internasional dari Manado menjadi indikator positif terhadap pemulihan ekonomi dan meningkatnya mobilitas antarnegara. Hal ini juga menunjukkan peran Bandara Sam Ratulangi sebagai infrastruktur pendukung pengembangan destinasi wisata utama Sulawesi Utara seperti Bunaken, Likupang, dan Minahasa.
Lonjakan penerbangan pada bulan Desember membuka peluang besar untuk penguatan branding pariwisata Sulawesi Utara. Momentum ini dapat dimanfaatkan secara optimal melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri, dan operator penerbangan.
Hub ASEAN Timur
Dengan tren peningkatan rute internasional, Bandara Sam Ratulangi memiliki potensi besar untuk menjadi penghubung utama wilayah timur Indonesia dengan kawasan Asia Tenggara. Selain itu, peningkatan konektivitas rute domestik ke daerah-daerah seperti Talaud dan Tahuna menjadi langkah penting untuk mendukung pemerataan pembangunan dan penguatan integrasi wilayah.(pr)
Editor : Pratama Karamoy