Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pelabuhan Bitung Sulawesi Utara Masih Mendominasi Ekspor, Ada Saingan?

Pratama Karamoy • Senin, 21 April 2025 | 09:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Perdagangan luar negeri melalui berbagai pelabuhan di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik sepanjang tahun 2023 dan 2024. Dari data yang dirilis BPS Sulut, total volume ekspor Indonesia melalui pelabuhan muat tercatat menurun signifikan, dari 1.221.298,13 ton di tahun 2023 menjadi 958.866,78 ton pada 2024. Penurunan ini juga tercermin dalam nilai ekspor FOB yang turun dari 888,63 juta dolar AS menjadi 833,68 juta dolar AS.

Photo
Photo

Salah satu pelabuhan utama di Sulawesi Utara, Pelabuhan Bitung, masih menjadi pemain dominan dalam aktivitas ekspor kawasan ini. Meski demikian, Bitung juga mengalami penurunan volume ekspor dari 668.526,67 ton pada 2023 menjadi 505.923,27 ton di tahun 2024. Nilai ekspor FOB Bitung pun menurun dari 605,81 juta dolar AS menjadi 583,83 juta dolar AS. Ini menandai adanya perlambatan kinerja ekspor di pelabuhan utama Sulut.

Tak hanya Bitung, Pelabuhan Amurang dan Labuan Uki juga mencatat penurunan ekspor. Amurang turun dari 216.251,27 ton menjadi 203.676,22 ton, sementara Labuan Uki turun dari 299.410,07 ton menjadi 225.078,95 ton. Menariknya, meskipun volume turun, nilai ekspor di Amurang justru naik menjadi 166,09 juta dolar AS, mengindikasikan kemungkinan adanya peningkatan harga komoditas atau perubahan jenis barang yang diekspor.

Sementara itu, beberapa pelabuhan menunjukkan geliat baru. Bandara Soekarno-Hatta misalnya, melonjak dari 21,60 ton pada 2023 menjadi 108,26 ton pada 2024, meskipun nilai ekspornya justru anjlok dari 30,65 juta dolar AS menjadi hanya 1,69 juta dolar AS. Ini menjadi sinyal adanya pergeseran jenis barang ekspor yang lebih ringan atau bernilai lebih rendah.

Baca Juga: Rapor Perlindungan Tenaga Kerja Sulawesi Utara, Menjanjikan?

Pelabuhan Tanjung Priok, sebagai pelabuhan utama nasional, justru mengalami peningkatan nilai ekspor dari 46,45 juta dolar AS menjadi 50,01 juta dolar AS, meski secara volume mengalami sedikit penurunan.

Beberapa pelabuhan kecil juga memperlihatkan dinamika menarik. Jalaluddin (U) di Gorontalo mulai mencatatkan aktivitas ekspor pada 2024 sebesar 2,28 ton dengan nilai 21.155,11 dolar AS, menunjukkan potensi pengembangan jalur ekspor dari wilayah ini.

Sayangnya, beberapa pelabuhan seperti Makassar dan Melonguane mencatat data tidak lengkap atau nol pada 2024, yang bisa menjadi indikasi adanya kendala operasional, perubahan rute ekspor, atau integrasi pelabuhan ke jalur logistik lainnya.

Secara umum, tren penurunan ini bisa menjadi alarm dini bagi pemangku kebijakan dan pelaku usaha ekspor. Fluktuasi volume dan nilai ekspor menggambarkan tantangan yang dihadapi sektor perdagangan luar negeri Indonesia, khususnya di kawasan timur seperti Sulawesi Utara. Diversifikasi pasar, efisiensi logistik, dan peningkatan nilai tambah produk menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor di tahun-tahun mendatang.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#Sulut #Ekspor #Pelabuhan