MANADOPOST.ID--Di balik upaya pemerintah meningkatkan akses pendidikan, ada tantangan besar yang masih membayangi, jumlah guru yang belum merata di seluruh wilayah.
Berdasarkan data terbaru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jumlah guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Provinsi Jawa Tengah mengalami sedikit penurunan dari 70.555 guru pada tahun ajaran 2023/2024 menjadi 69.629 guru pada 2024/2025.
Penurunan ini terjadi meski jumlah sekolah cenderung meningkat. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan penting: apakah beban kerja guru akan semakin berat? Apakah kualitas pengajaran bisa tetap terjaga?
Kabupaten Cilacap tercatat sebagai daerah dengan jumlah guru SMP terbanyak di Jawa Tengah, mencapai 3.792 guru pada 2024/2025. Sementara itu, Kota Magelang memiliki jumlah guru paling sedikit, yakni 631 guru di tahun yang sama. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa distribusi tenaga pendidik masih belum sepenuhnya merata.
Jika dilihat dari tren perbandingan, mayoritas kabupaten mengalami penurunan jumlah guru negeri, meskipun guru swasta di beberapa daerah menunjukkan peningkatan.
Misalnya, di Kabupaten Kendal, guru negeri menurun dari 1.264 menjadi 1.215, namun guru swasta naik dari 474 ke 523. Artinya, lembaga swasta mulai mengambil peran lebih besar dalam menutupi kekurangan tenaga pengajar.
Kota-kota besar seperti Semarang dan Surakarta menjadi penyangga penting. Semarang memiliki total 3.824 guru pada 2024/2025, jumlah tertinggi dari seluruh kota di provinsi ini.
Namun menariknya, sebagian besar berasal dari sekolah swasta hampir setara dengan sekolah negeri menunjukkan ketergantungan besar pada institusi non-pemerintah.
Sementara itu, beberapa daerah seperti Rembang, Blora, dan Temanggung mencatat jumlah guru di bawah 1.600, menandakan potensi kekurangan guru terutama jika dibandingkan dengan wilayah yang lebih padat penduduk dan sekolah.
Secara keseluruhan, jumlah guru negeri menurun dari 52.093 menjadi 51.534, dan guru swasta juga sedikit turun dari 18.462 ke 18.095. Penurunan ini, meski tak signifikan dalam jumlah, tetap berdampak besar bagi daerah-daerah yang selama ini sudah kekurangan guru.
Bagaimana Jawa Tengah akan memastikan mutu pendidikan tetap terjaga ketika jumlah pengajarnya berkurang?. Apakah ada strategi distribusi ulang, rekrutmen baru, atau pelatihan intensif untuk meningkatkan efisiensi tenaga pengajar yang ada?.
Pendidikan adalah fondasi bangsa. Dan guru adalah pilar utamanya. Jika pilar ini melemah di satu wilayah, maka bangunan masa depan generasi muda pun terancam goyah. Pemerataan bukan hanya soal jumlah, tapi juga soal keadilan akses terhadap pendidikan berkualitas. (*)
Editor : Clavel Lukas