MANADOPOST.ID--Pendidikan menengah atas merupakan jembatan penting menuju dunia perguruan tinggi atau dunia kerja. Di Jawa Tengah, data terbaru menunjukkan bahwa jumlah SMA negeri tetap stagnan dalam dua tahun terakhir, yakni 362 sekolah, namun menariknya, sekolah swasta mengalami pertumbuhan dari 499 menjadi 506 unit. Total ada 868 Sekolah.
Pertama-tama mari kita lihat sebarannya. Kabupaten-kabupaten besar seperti Cilacap, Banyumas, dan Brebes konsisten mendominasi jumlah sekolah, baik negeri maupun swasta. Contohnya, Cilacap memiliki total 42 sekolah, dan semua angka tetap sama di tahun berikutnya.
Sementara itu, kota-kota seperti Magelang, Salatiga, dan Tegal justru hanya memiliki 13 hingga 10 SMA, menunjukkan keterbatasan akses bagi wilayah kota kecil.
Karena pertumbuhan terbesar justru terjadi di jalur sekolah swasta, seperti di Kota Surakarta yang mengalami penambahan sekolah swasta dari 23 ke 24, atau di Kabupaten Demak dan Pati yang menunjukkan tren peningkatan lembaga pendidikan swasta.
Hal ini memberi sinyal bahwa masyarakat mulai mencari alternatif dari sekolah negeri, baik karena keterbatasan daya tampung maupun karena kualitas yang ditawarkan sekolah swasta mulai bersaing.
Namun, tidak semua kabupaten mengalami perubahan. Beberapa daerah seperti Temanggung, Kendal, dan Blora mempertahankan angka yang sama, baik dari sisi sekolah negeri maupun swasta. Ini bisa berarti stabilitas, tetapi juga stagnasi dalam perkembangan pendidikan lokal.
Ada juga fakta menarik dari Kota Semarang meski merupakan ibu kota provinsi, jumlah sekolahnya tetap di angka 70 dengan dominasi sekolah swasta yang cukup tinggi (lebih dari 50 sekolah). Ini memperlihatkan peran dominan sektor swasta dalam menyokong pendidikan di kota besar.
Pemerintah perlu menaruh perhatian lebih pada daerah dengan jumlah sekolah terbatas. Kesenjangan antara kabupaten besar dan kota kecil perlu dijembatani agar setiap siswa, di mana pun mereka tinggal, mendapat kesempatan pendidikan yang setara.
Pemerataan bukan hanya soal jumlah sekolah, tapi juga soal kualitas, fasilitas, dan keberadaan tenaga pengajar yang kompeten. (*)
Editor : Clavel Lukas