MANADOPOST.ID-Di balik gencarnya upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan vokasi, terdapat fakta menarik dari Provinsi Jawa Tengah. Jumlah guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada tahun ajaran 2024/2025 mengalami penurunan, meski tidak terlalu drastis.
Data terbaru mencatat total 45.706 guru SMK, turun dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 46.092 guru.
Penurunan sebanyak 386 guru ini memunculkan banyak pertanyaan: apakah jumlah peserta didik juga ikut turun?. Apakah ada kebijakan baru yang berdampak pada distribusi guru? Atau justru karena faktor pensiun dan perpindahan?.
Secara keseluruhan, guru SMK di Jawa Tengah masih didominasi oleh tenaga pendidik dari sekolah swasta. Pada tahun ajaran 2024/2025, terdapat 28.710 guru swasta, sementara guru negeri berjumlah 16.996. Keduanya mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, yang masing-masing mencapai 29.059 dan 17.033.
Fakta ini menunjukkan bahwa sektor swasta masih menjadi ujung tombak dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan, terutama di daerah-daerah yang memiliki banyak SMK non-negeri.
Jika dilihat per wilayah, Kabupaten Brebes mencatat jumlah guru terbanyak di Jawa Tengah, yakni 2.308 guru. Disusul oleh Kabupaten Banyumas dengan 2.259 guru, lalu Kabupaten Tegal dengan 2.220 guru.
Angka ini menunjukkan konsentrasi SMK yang cukup tinggi di daerah-daerah tersebut, sekaligus memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan tenaga pendidik yang merata dan berkualitas di wilayah-wilayah dengan populasi pelajar yang besar.
Sementara itu, Kota Surakarta menonjol di antara kota/kabupaten lainnya dengan total 1.502 guru, sebagian besar berasal dari sekolah swasta. Ini mencerminkan bahwa wilayah kota cenderung memiliki lebih banyak institusi pendidikan non-negeri yang berperan aktif dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi.
Meski sebagian besar daerah mencatat jumlah guru yang relatif stabil, ada beberapa wilayah yang mengalami penurunan mencolok. Salah satunya adalah Kabupaten Kebumen, yang sebelumnya memiliki 2.051 guru, namun turun menjadi 2.006 guru. Penurunan serupa terjadi di Kabupaten Klaten, Kota Magelang, dan Kabupaten Cilacap.
Jika tidak segera ditindaklanjuti, penurunan jumlah guru ini dapat berdampak pada kualitas pembelajaran, terutama di sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pendidik dengan kompetensi kejuruan khusus.
Fenomena menarik lainnya adalah dominasi guru swasta di wilayah perkotaan. Misalnya, di Kota Surakarta, guru swasta mencapai 1.250 orang, jauh lebih banyak dibanding guru negeri yang hanya 252 orang.
Situasi serupa terjadi di Kota Semarang dan Kota Pekalongan, di mana peran swasta dalam pendidikan kejuruan tampak sangat besar.
Hal ini menunjukkan bahwa di kota-kota besar, masyarakat cenderung memiliki lebih banyak pilihan dalam memilih sekolah, dan sektor swasta mampu menyediakan infrastruktur pendidikan yang kompetitif.
Penurunan jumlah guru bisa menimbulkan tantangan baru. Di satu sisi, guru adalah pilar utama dalam proses pendidikan. Kekurangan guru bisa mengakibatkan beban kerja meningkat, proses pembelajaran terganggu, bahkan penurunan kualitas lulusan.
Di sisi lain, data ini juga bisa mencerminkan langkah efisiensi, penataan ulang, atau bahkan digitalisasi sistem pembelajaran yang mengurangi kebutuhan akan guru tatap muka dalam beberapa program kejuruan.
Di era modern, dengan hadirnya teknologi pembelajaran dan konsep seperti teaching factory serta blended learning, kebutuhan guru bisa lebih fleksibel. Namun, ini tetap tidak bisa menggantikan pentingnya kehadiran guru sebagai pembimbing langsung dalam praktik kejuruan yang bersifat teknis.
Pendidikan vokasi di Jawa Tengah memiliki potensi yang luar biasa, namun juga menghadapi tantangan nyata dalam hal ketersediaan guru. Penurunan jumlah guru harus segera dianalisis lebih dalam oleh pemangku kebijakan, agar tidak menimbulkan ketimpangan antara kebutuhan pendidikan dan ketersediaan sumber daya manusia.
Upaya pemerataan, peningkatan kualitas pelatihan guru, serta optimalisasi peran swasta dan teknologi perlu menjadi bagian dari strategi besar untuk memastikan pendidikan kejuruan di Jawa Tengah tetap relevan, kompetitif, dan mampu mencetak lulusan yang siap menghadapi dunia kerja. (*)
Editor : Clavel Lukas