Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Surabaya dan Kota Madiun Catat Angka Terendah Keluhan Kesehatan di Jawa Timur Tahun 2024

Tesalonika Pontororing • Rabu, 30 April 2025 | 22:35 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST.ID – Semakin Banyak Warga Jawa Timur yang Berobat: Persentase Keluhan Kesehatan Naik Signifikan dalam Lima Tahun Terakhir. Tren kesehatan masyarakat di Jawa Timur menunjukkan dinamika yang menarik dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan data BPS dari Jawa Timur Dalam Angka 2025, jumlah penduduk yang melaporkan keluhan kesehatan dan melakukan rawat jalan dalam sebulan terakhir mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2020 hingga 2024.

Tahun 2020 mencatat bahwa rata-rata 46 persen penduduk Jawa Timur mengalami keluhan kesehatan dan menjalani rawat jalan. Angka ini sempat menurun pada tahun 2021 menjadi 39,66 persen dan kembali turun pada 2022 menjadi 39,18 persen. Namun, lonjakan kembali terjadi pada 2023 sebesar 35,26 persen dan meningkat tajam menjadi 39,86 persen pada 2024.

Di tingkat kabupaten/kota, fluktuasi dan lonjakan terjadi secara bervariasi. Kabupaten dengan persentase tertinggi pada tahun 2024 adalah Sampang, dengan 53,52 persen warganya mengaku mengalami keluhan kesehatan dan menjalani rawat jalan, naik dari 42,48 persen pada 2023.

Disusul Jember dengan 51,79 persen dan Situbondo sebesar 50,37 persen. Ketiganya menempati urutan teratas dalam hal jumlah penduduk yang aktif mengakses layanan kesehatan pasca mengalami keluhan.

Lumajang juga mengalami peningkatan signifikan dari 38,63 persen pada 2023 menjadi 48,00 persen di 2024, mencerminkan respons positif terhadap peningkatan layanan kesehatan di wilayah tersebut. Ponorogo mencatat 31,73 persen, relatif stabil dari tahun sebelumnya. Sedangkan Trenggalek berada di angka 31,92 persen, naik dari 26,00 persen.

Beberapa daerah dengan angka rendah di tahun 2024 antara lain Sidoarjo (28,36 persen), Kota Madiun (26,26 persen), dan Surabaya (29,66 persen). Hal ini bisa mengindikasikan dua hal: rendahnya prevalensi penyakit atau kurangnya pelaporan keluhan karena tingginya gaya hidup aktif atau keterbatasan kesadaran terhadap gejala penyakit.

Berikut ini rincian persentase per kabupaten/kota:

Kabupaten:

Pacitan 31,96

Ponorogo 31,73

Trenggalek 31,92

Tulungagung 34,12

Blitar 32,71

Kediri 33,66

Malang 42,92

Lumajang 48,00

Jember 51,79

Banyuwangi 43,58

Bondowoso 42,33

Situbondo 50,37

Probolinggo 47,81

Pasuruan 43,18

Sidoarjo 28,36

Mojokerto 40,88

Jombang 44,33

Nganjuk 40,72

Madiun 34,36

Magetan 36,07

Ngawi 39,76

Bojonegoro 39,63

Tuban 33,89

Lamongan 44,55

Gresik 33,53

Bangkalan 44,98

Sampang 53,52

Pamekasan 40,18

Sumenep 35,62

Kota:

Kota Kediri 33,64

Kota Blitar 42,78

Kota Malang 47,06

Kota Probolinggo 44,72

Kota Pasuruan 44,02

Kota Mojokerto 41,61

Kota Madiun 26,26

Kota Surabaya 29,66

Kota Batu 41,80

Kenaikan persentase keluhan kesehatan yang diikuti oleh tindakan rawat jalan ini dapat dibaca dari dua sisi. Di satu sisi, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya berobat menjadi kabar baik, sekaligus cerminan dari makin meratanya fasilitas kesehatan di Jawa Timur. Di sisi lain, hal ini juga bisa menjadi indikator adanya peningkatan faktor risiko kesehatan yang harus diperhatikan pemerintah, seperti polusi, perubahan iklim, hingga beban kerja masyarakat.

Editor : Clavel Lukas
#Jatim #BPS