Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Dukun Bayi Mulai Tergeser, Ibu-Ibu Jawa Barat Kini Pilih Medis

Alfianne Lumantow • Rabu, 7 Mei 2025 | 16:14 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST.ID– Layanan persalinan di Jawa Barat menunjukkan pergeseran mencolok dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data dari BPS, jumlah perempuan usia 15–49 tahun yang pernah menikah dan melahirkan dalam dua tahun terakhir dengan bantuan dukun bayi semakin menyusut.

Jika pada tahun 2023 masih ada sekitar 7,48 persen perempuan yang melahirkan dengan bantuan dukun, maka pada 2024 angka tersebut turun menjadi 5,05 persen.

Tren ini memperlihatkan pergeseran pola pikir masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya layanan persalinan yang aman dan profesional. Dukun bayi yang selama ini menjadi bagian dari tradisi melahirkan di pedesaan mulai kehilangan peran seiring meningkatnya akses ke layanan kesehatan modern.

Data dari berbagai kabupaten memperkuat kecenderungan ini. Kabupaten Garut, yang pada 2023 mencatat angka tertinggi penggunaan dukun sebesar 18,57 persen, pada tahun 2024 turun menjadi 12,14 persen.

Kabupaten lainnya seperti Cianjur juga mengalami penurunan, dari 16,83 persen pada 2023 menjadi 12,65 persen di tahun berikutnya. Sementara itu, wilayah perkotaan seperti Kota Bekasi, Depok, Cimahi, dan Bandung mencatat angka nol persen dalam dua tahun berturut-turut—mengindikasikan bahwa persalinan oleh dukun nyaris tak terjadi lagi di kota-kota besar.

Sebagian kecil wilayah masih mencatat kehadiran kategori “lainnya”, yaitu penolong persalinan selain dokter, bidan, atau dukun. Misalnya, Kabupaten Ciamis mencatat angka 0,84 persen pada 2024. Namun, kontribusi dari kelompok ini sangat kecil dan tidak signifikan secara keseluruhan, karena sebagian besar kabupaten/kota lainnya mencatat nol persen atau tidak ada data.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan perubahan besar dalam preferensi penolong persalinan di Jawa Barat. Jika pada dekade lalu dukun bayi masih memegang peranan penting, kini peran mereka perlahan digantikan oleh tenaga medis yang dinilai lebih terlatih dan aman.

Hal ini juga tak lepas dari program-program pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, serta penyuluhan tentang risiko persalinan tanpa dukungan medis.

Dengan total 100 persen persalinan yang tercatat memiliki penolong—baik dokter, bidan, dukun, maupun tenaga lain—maka dapat dikatakan bahwa kesadaran masyarakat Jawa Barat dalam mencari bantuan persalinan sudah mencapai tahap yang baik. Tantangannya ke depan adalah mempercepat transisi dari praktik tradisional ke medis, terutama di kabupaten-kabupaten yang masih menunjukkan ketergantungan pada dukun bayi.

Transformasi ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif dan modern di Jawa Barat, sekaligus menyelamatkan lebih banyak ibu dan bayi dalam proses kelahiran.

Editor : Clavel Lukas
#dukun bayi #jabar