MANADOPOST.ID - Setelah mencatat total 12.903 pencari kerja terdaftar, Provinsi Gorontalo kini memperlihatkan wajah pasar kerjanya dari sisi penawaran: sebanyak 10.339 lowongan kerja resmi tercatat pada tahun 2024, dengan kontribusi dominan dari sektor pekerjaan laki-laki.
Dalam laporan lanjutan BPS bertajuk Provinsi Gorontalo Dalam Angka 2025, dari total lowongan kerja tersebut, 7.376 ditujukan untuk laki-laki dan 2.963 untuk perempuan. Ini menunjukkan masih tingginya kesenjangan kesempatan kerja berdasarkan gender, meski mulai ada geliat peningkatan partisipasi perempuan.
Pohuwato Jadi Episentrum Lowongan Kerja
Sama seperti data pencari kerja, Kabupaten Pohuwato kembali mencatat angka tertinggi, kali ini dalam hal ketersediaan lapangan kerja. Sebanyak 3.797 lowongan tercatat di Pohuwato, terdiri dari 2.840 posisi untuk laki-laki dan 957 untuk perempuan.
Jumlah ini menjadikan Pohuwato sebagai kabupaten paling prospektif dari sisi peluang kerja di Provinsi Gorontalo. Hal ini bisa dikaitkan dengan potensi sektor unggulan daerah tersebut seperti pertambangan, pertanian, dan perikanan, yang memang padat karya dan menyerap banyak tenaga kerja.
Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Menyusul
Menyusul di posisi kedua, Kota Gorontalo menyediakan 1.935 lowongan kerja, sedangkan Kabupaten Gorontalo menyumbang 2.218 lowongan. Menariknya, meski Kota Gorontalo adalah pusat pemerintahan dan ekonomi, jumlah lowongan masih kalah tipis dibandingkan Kabupaten Gorontalo.
Kabupaten Boalemo juga menunjukkan angka yang cukup kompetitif dengan 1.763 lowongan, yang didominasi oleh sektor pekerjaan laki-laki.
Sebaliknya, Kabupaten Bone Bolango dan Gorontalo Utara berada di posisi terendah dengan masing-masing hanya menyediakan 295 dan 331 lowongan kerja.
Ketimpangan Gender di Peluang Kerja
Kesenjangan antara jumlah lowongan untuk laki-laki dan perempuan cukup mencolok di hampir semua daerah. Misalnya, di Bone Bolango, hanya tersedia 86 lowongan untuk perempuan dari total 295, dan di Gorontalo Utara hanya 77 dari 331.
Ketimpangan ini menandakan perlunya kebijakan afirmatif untuk memperluas akses perempuan terhadap lapangan kerja, terutama di sektor formal dan teknis yang masih didominasi oleh laki-laki.
Walaupun jumlah lowongan kerja terdaftar (10.339) masih belum mampu menampung seluruh pencari kerja (12.903), proporsi ini cukup menjanjikan dengan rasio peluang sebesar 1:1,24. Artinya, untuk setiap 100 pencari kerja, tersedia sekitar 80 lowongan kerja.
Namun demikian, ketimpangan antara wilayah, jenis kelamin, dan potensi daerah menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan akses kerja. Pemerintah daerah diharapkan segera menyusun strategi lintas sektor untuk menjembatani kebutuhan tenaga kerja dan peluang yang tersedia.(pr)
Editor : Pratama Karamoy