Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

SMK Masih Diminati di Gorontalo? Yuk Cek Datanya!

Pratama Karamoy • Rabu, 14 Mei 2025 | 08:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Dunia pendidikan Kejuruan di Provinsi Gorontalo menunjukkan kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan. Meskipun jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) tidak mengalami perubahan signifikan dalam dua tahun terakhir yakni tetap 59 sekolah sedangkan jumlah guru dan murid tercatat mengalami penurunan yang cukup nyata.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, total guru SMK di Gorontalo turun dari 1.763 pada tahun ajaran 2023/2024 menjadi 1.733 pada 2024/2025. Sementara itu, jumlah siswa pun menyusut lebih drastis, dari 16.807 menjadi 15.189 murid, atau kehilangan lebih dari 1.600 peserta didik dalam setahun.

Photo
Photo

Sekolah Tetap, Distribusi Tidak Merata

Sebaran sekolah SMK di Gorontalo relatif stabil. Kabupaten Boalemo, misalnya, tetap memiliki 10 sekolah, seluruhnya negeri. Kabupaten Gorontalo memegang jumlah tertinggi dengan 15 sekolah, terdiri dari 7 negeri dan 8 swasta. Sementara itu, Kota Gorontalo memiliki total 9 sekolah, separuh di antaranya swasta.

Meski jumlah sekolah tidak berubah, distribusi guru dan murid memperlihatkan adanya tantangan serius. Salah satunya adalah beban berat pada guru di Kota Gorontalo yang mengajar di dua sekolah atau lebih, sebagaimana dicatat dalam catatan kaki tabel.

Krisis Guru Mengancam Mutu Pendidikan

Data menunjukkan adanya penurunan jumlah guru di hampir semua kabupaten/kota. Kabupaten Boalemo kehilangan 13 guru dalam setahun. Kabupaten Bone Bolango menyusut dari 236 menjadi 231 guru. Yang paling signifikan terjadi di Kabupaten Gorontalo yang turun dari 436 menjadi 440 guru, meskipun secara teknis terjadi kenaikan di sisi swasta (dari 115 ke 122 guru) dan penurunan di negeri (dari 321 ke 318 guru).

Penurunan ini dapat berdampak langsung pada kualitas pendidikan, terutama di sekolah kejuruan yang menekankan pada praktik dan penguasaan keterampilan teknis yang memerlukan pembimbing profesional.

Siswa Menurun, Apakah Kejuruan Mulai Ditanggalkan?

Lebih mencolok lagi adalah penurunan jumlah siswa. Kota Gorontalo, yang menjadi pusat pendidikan provinsi, mengalami penurunan paling signifikan: dari 6.041 siswa menjadi 5.602 dalam satu tahun ajaran. Kabupaten Gorontalo juga mencatat penurunan drastis dari 4.126 menjadi 3.558 siswa.

Secara keseluruhan, Provinsi Gorontalo kehilangan lebih dari 1.600 siswa SMK dalam satu tahun. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah minat terhadap pendidikan kejuruan sedang menurun? Ataukah ada pergeseran ke sekolah menengah umum atau bahkan ke jalur non-formal?

Baca Juga: Tren Penempatan PMI Gorontalo Menguat, Negara Tujuan Kian Beragam

Tren penurunan jumlah guru dan siswa ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pusat. Jika tidak segera diantisipasi, bukan tidak mungkin Gorontalo akan menghadapi krisis tenaga kerja terampil di masa depan, karena lulusan SMK adalah ujung tombak tenaga kerja siap pakai di berbagai sektor.

Perlu ada strategi baru yang lebih nyata, mulai dari promosi SMK, peningkatan kualitas fasilitas dan guru, hingga kemitraan aktif dengan dunia industri. Tanpa langkah nyata, SMK di Gorontalo bisa kehilangan relevansinya dalam menghadapi era persaingan kerja yang semakin kompleks.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#Pendidikan #Manado Post #Gorontalo