MANADOPOST.ID - Di tengah upaya pembangunan fasilitas kesehatan di Provinsi Gorontalo, satu catatan penting justru datang dari layanan kesehatan ibu dan anak: jumlah desa/kelurahan yang memiliki rumah sakit bersalin mengalami penurunan dari 2 lokasi pada tahun 2020 menjadi hanya 1 lokasi pada 2024.
Data dari Gorontalo Dalam Angka 2025 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mengungkap bahwa selama lima tahun terakhir, rumah sakit bersalin hanya hadir di Kota Gorontalo, dan tidak ada satu pun desa atau kelurahan di kabupaten yang memiliki fasilitas serupa.
Selama Lima Tahun, Layanan Persalinan Tak Menyentuh Wilayah Kabupaten
Sejak 2020 hingga 2021, tercatat ada dua lokasi di Kota Gorontalo yang memiliki rumah sakit bersalin. Namun pada 2024, jumlah tersebut turun menjadi satu, sementara lima kabupaten lainnya — Boalemo, Gorontalo, Pohuwato, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara — tidak memiliki satupun fasilitas rumah sakit bersalin di desa/kelurahannya selama lima tahun terakhir.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa akses layanan bersalin yang aman dan memadai masih sangat terpusat di kota, meninggalkan wilayah kabupaten dalam kondisi ketimpangan layanan kesehatan maternal yang mengkhawatirkan.
Apa Dampaknya Bagi Ibu dan Anak di Pedesaan?
Ketiadaan rumah sakit bersalin di desa dan kelurahan di wilayah kabupaten membawa dampak nyata bagi perempuan hamil di pedesaan. Mereka harus menempuh jarak jauh ke kota hanya untuk mendapat layanan bersalin yang aman, terutama dalam kondisi darurat. Situasi ini memperbesar risiko keterlambatan penanganan medis, komplikasi kelahiran, dan bahkan kematian ibu dan bayi.
Jika dilihat dari aspek pelayanan publik dan keadilan sosial, hal ini mencerminkan masih jauhnya pemerataan layanan kesehatan bagi perempuan dan anak di Provinsi Gorontalo.
Baca Juga: Tren Positif Pendidikan: SMP di Gorontalo Kembali Bertambah
Pemerintah Daerah Harus Bergerak Cepat
Minimnya rumah sakit bersalin seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat infrastruktur kesehatan dasar, terutama di wilayah pedesaan. Upaya pembangunan fasilitas kesehatan tak cukup hanya berfokus pada rumah sakit umum, namun juga harus memperhatikan fasilitas khusus seperti rumah sakit bersalin dan puskesmas dengan layanan kebidanan lengkap.
Investasi dalam layanan maternal tak hanya menyangkut bangunan fisik, tetapi juga penguatan tenaga medis, edukasi kesehatan ibu, serta penyediaan transportasi darurat di daerah terpencil.(pr)
Editor : Pratama Karamoy