Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Apakah Penyakit Menular Masih Mengintai Gorontalo?

Pratama Karamoy • Jumat, 23 Mei 2025 | 08:00 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo pada tahun 2024 menunjukkan dua sisi yang kontras: di satu sisi, upaya penemuan dan pengobatan TBC (Tuberkulosis) menunjukkan capaian menggembirakan, namun di sisi lain, kasus baru AIDS masih menjadi perhatian serius, terutama di wilayah perkotaan.

Photo
Photo

Penemuan TBC Tertinggi di Kota Gorontalo, Melebihi 100%

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka penemuan dan pengobatan TBC di Provinsi Gorontalo mencapai 77% secara keseluruhan. Namun, pencapaian ini sangat ditopang oleh Kota Gorontalo yang mencatat angka 115%—artinya, upaya penemuan kasus baru TBC bahkan melebihi target populasi yang diperkirakan berisiko.

Wilayah lain seperti Kabupaten Bone Bolango (88%) dan Kabupaten Gorontalo (84%) juga mencatat capaian tinggi. Sebaliknya, Kabupaten Gorontalo Utara hanya mampu mencapai 49%, terendah di provinsi ini, menandakan masih lemahnya cakupan skrining dan penanganan dini.

Keberhasilan Pengobatan TBC Relatif Tinggi

Satu hal yang patut diapresiasi adalah tingkat keberhasilan pengobatan TBC yang mencapai 89% di tingkat provinsi. Kabupaten Gorontalo (93%) dan Bone Bolango (92%) menunjukkan efektivitas sistem pengobatan yang sangat baik.

Namun, Kabupaten Pohuwato hanya mencatat keberhasilan sebesar 83%, yang menjadi perhatian karena bisa berisiko meningkatkan angka resistensi obat apabila pengobatan tidak tuntas.

Kasus Baru AIDS

Ancaman AIDS masih nyata di Provinsi Gorontalo. Sebanyak 48 kasus baru AIDS tercatat di tahun 2024, dan lebih dari setengahnya terjadi di Kota Gorontalo, yakni 25 kasus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain, seperti Kabupaten Gorontalo (17 kasus), Bone Bolango (3), dan Gorontalo Utara (2 kasus). Kabupaten Pohuwato bahkan mencatatkan nol kasus, meskipun ini juga bisa menandakan tantangan dalam deteksi dini.

Kota Gorontalo sebagai pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi kemungkinan besar menjadi episentrum penyebaran HIV/AIDS, yang sering kali berkaitan dengan mobilitas tinggi, perilaku berisiko, dan kurangnya edukasi menyeluruh.

Baca Juga: Modernisasi Layanan Persalinan di Gorontalo: Bidan & Dokter Dominan

Capaian dalam penemuan dan pengobatan TBC di Gorontalo mencerminkan keberhasilan layanan kesehatan dasar dan peran aktif petugas lapangan. Namun, ketimpangan antarwilayah menuntut perhatian lebih, terutama bagi kabupaten yang masih rendah dalam deteksi atau keberhasilan pengobatan.

Sementara itu, angka AIDS yang signifikan di wilayah perkotaan menjadi cermin bahwa edukasi seksual, akses terhadap layanan tes HIV, dan program pencegahan belum menyentuh semua lapisan masyarakat secara merata.(pr)

 

Editor : Pratama Karamoy
#Kesehatan #Manado Post #Gorontalo