MANADOPOST.ID - Tahun lalu menandai babak baru dalam tantangan kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo. Tiga penyakit menular yang masih menghantui adalah kusta, malaria, dan demam berdarah dengue (DBD) masing-masing memiliki karakteristik dan persebaran yang berbeda-beda di setiap kabupaten/kota.
Kusta: Ancaman Senyap di Daerah Pinggiran
Secara rata-rata provinsi, angka penemuan kasus baru kusta di Gorontalo tercatat 10,89 per 100.000 penduduk. Namun, di balik angka rata-rata tersebut, tersembunyi ketimpangan yang mencolok.
-
Kabupaten Gorontalo Utara mencatatkan angka tertinggi dengan 16,57 kasus, disusul Pohuwato (15,37) dan Bone Bolango (14,48).
-
Sebaliknya, Kota Gorontalo hanya mencatatkan 2,68 kasus, menjadikannya wilayah dengan angka kusta terendah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penyakit kusta masih lebih lazim di daerah dengan akses kesehatan terbatas atau tingkat edukasi masyarakat yang masih rendah.
Malaria: Pohuwato Jadi Episentrum
Sementara untuk malaria, Kabupaten Pohuwato menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, dengan angka kesakitan mencapai 5,36 per 1.000 penduduk—jauh di atas rata-rata provinsi yang hanya 1,29.
-
Bandingkan dengan Bone Bolango (0,06) dan Kota Gorontalo (0,24) yang mencatat angka sangat rendah.
-
Daerah seperti Boalemo (3,16) juga masih tergolong tinggi dan perlu perhatian.
Data ini mengindikasikan bahwa daerah pedalaman dan perbatasan seperti Pohuwato masih menjadi habitat endemik nyamuk malaria, dengan kemungkinan penyebaran dari wilayah sekitarnya, termasuk lintas provinsi.
Demam Berdarah Dengue (DBD): Tren Tertinggi di Bone Bolango
Di tengah penurunan nasional kasus DBD, Gorontalo masih mencatat angka cukup tinggi secara rata-rata: 207,3 kasus per 100.000 penduduk.
Yang paling mencolok adalah Bone Bolango dengan angka kejadian DBD mencapai 393,8 per 100.000 jiwa, hampir dua kali lipat dari rata-rata provinsi.
-
Pohuwato juga mencatat angka tinggi (282,5), menunjukkan penyebaran DBD yang kuat di wilayah barat dan tengah provinsi.
-
Sebaliknya, Kota Gorontalo mencatat angka terendah: hanya 119,1 kasus, kemungkinan besar karena sanitasi yang lebih baik dan cakupan fogging yang lebih intensif.
Baca Juga: Gorontalo Bergerak Menuju Layanan Persalinan Modern
Gambaran ini menunjukkan bahwa:
-
Penyakit seperti kusta dan malaria masih terkonsentrasi di daerah rural dan pinggiran, yang menandakan perlunya pemerataan layanan dan edukasi kesehatan.
-
Sementara DBD justru mewabah di wilayah-wilayah yang mulai berkembang secara ekonomi dan pemukiman padat, seperti Bone Bolango dan Pohuwato.
Kesehatan masyarakat tidak hanya soal rumah sakit, tapi juga bagaimana sistem kewaspadaan dini, edukasi, kebersihan lingkungan, dan pemerataan layanan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.(pr)
Editor : Pratama Karamoy