MANADOPOST.ID - Di balik julukannya sebagai Serambi Madinah, Provinsi Gorontalo menyimpan mozaik keberagaman agama yang hidup dalam harmoni. Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Agama Provinsi Gorontalo dalam publikasi Gorontalo Dalam Angka 2025 mengungkap lebih dari sekadar angka. Ia berbicara tentang keberagaman yang dijaga, ruang ibadah yang dibuka, dan masyarakat yang hidup berdampingan dalam damai.
Islam Mendominasi, Minoritas Tetap Berdampingan
Tahun 2024, total penduduk Provinsi Gorontalo tercatat sebanyak 1.154.426 jiwa. Mayoritas penduduk, sebanyak 1.132.864 jiwa atau sekitar 98,14 persen, memeluk agama Islam. Dominasi ini sejalan dengan identitas budaya Gorontalo sebagai wilayah yang kuat nilai-nilai religiusnya.
Namun, angka juga menunjukkan warna lain dalam kehidupan beragama masyarakat:
-
Protestan: 15.273 jiwa
-
Katolik: 1.355 jiwa
-
Hindu: 4.002 jiwa
-
Buddha: 929 jiwa
-
Lainnya: 3 jiwa
Yang menarik, kehadiran umat Hindu, terutama di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato, menunjukkan bahwa komunitas ini cukup berkembang, bahkan melebihi jumlah umat Katolik. Sementara itu, Kota Gorontalo mencatat konsentrasi tertinggi umat Buddha dan juga keberadaan penganut agama lainnya.
Jumlah tempat ibadah menjadi cermin nyata dari komposisi penduduk berdasarkan agama. Tercatat 2.777 masjid dan mushola tersebar di seluruh provinsi, dengan angka tertinggi berada di Kabupaten Gorontalo sebanyak 1.029 unit. Masjid menjadi pusat utama kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat Muslim di berbagai pelosok Gorontalo.
Namun, tak hanya Islam yang difasilitasi. Pemerintah dan masyarakat Gorontalo turut membuka ruang bagi pemeluk agama-agama lainnya:
-
Gereja Protestan: 171 unit, terbanyak di Kabupaten Gorontalo Utara dan Pohuwato
-
Gereja Katolik: 24 unit, paling banyak di Gorontalo Utara
-
Pura: 34 unit, dominan di Boalemo dan Pohuwato
-
Vihara: 1 unit, berada di Kota Gorontalo
-
Kelenteng: 3 unit, tersebar di Kabupaten dan Kota Gorontalo
Kota dan Kabupaten yang Toleran
Kabupaten Gorontalo Utara tampil mencolok sebagai wilayah dengan jumlah rumah ibadah non-Muslim terbanyak. Fakta ini sejalan dengan komposisi penduduknya yang lebih majemuk. Kota Gorontalo juga menunjukkan wajah toleransi dengan menjadi satu-satunya daerah yang memiliki vihara dan dua kelenteng.
Sementara itu, Pohuwato dan Boalemo menjadi pusat komunitas Hindu. Ini dibuktikan dengan kehadiran belasan pura dan ribuan penganut Hindu yang tersebar di kedua wilayah tersebut.
Infrastruktur Ibadah sebagai Pilar Kebersamaan
Keberadaan rumah ibadah bagi semua agama, meski jumlahnya tidak seimbang, menunjukkan prinsip inklusivitas yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Gorontalo. Tidak hanya melayani mayoritas, pemerintah dan masyarakat di provinsi ini juga menyediakan ruang spiritual bagi kelompok minoritas seperti Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan lainnya.
Hal ini menjadi bukti bahwa toleransi di Gorontalo bukan sekadar jargon. Ia tumbuh bersama masjid, berdampingan dengan gereja, pura, dan kelenteng. Semua berdiri untuk menciptakan suasana sosial yang damai, setara, dan saling menghargai.(pr)
Editor : Pratama Karamoy