Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Tiga Kabupaten Kuasai Lahan Bercocok Tanam Terluas di Gorontalo

Pratama Karamoy • Senin, 9 Juni 2025 | 09:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Lanskap Lahan di Provinsi Gorontalo menunjukkan keragaman pemanfaatan lahan yang mencerminkan kondisi geografis dan strategi pertanian di setiap wilayah. Data dari Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mencatat bahwa total luas lahan tegal atau kebun mencapai 192.114,6 hektare. Sementara itu ladang atau huma menempati luas sebesar 64.208 hektare dan lahan yang sementara tidak diusahakan mencapai 45.236,5 hektare.

Photo
Photo

Kabupaten Boalemo mencatatkan diri sebagai wilayah dengan luas tegal atau kebun terbesar yaitu sebesar 54.448 hektare. Selain itu kabupaten ini juga memiliki ladang atau huma seluas 17.883 hektare dan lahan tidak diusahakan sebanyak 472 hektare. Angka ini menempatkan Boalemo sebagai salah satu daerah dengan pemanfaatan lahan pertanian yang cukup optimal dan efisien. Boalemo juga menunjukkan keseimbangan antara lahan aktif dan lahan yang sementara tidak digarap.

Kabupaten Gorontalo menyusul di posisi kedua untuk luas tegal atau kebun dengan angka mencapai 52.142 hektare. Namun wilayah ini memiliki jumlah lahan tidak diusahakan yang lebih tinggi yaitu sebesar 2.745 hektare. Ladang atau huma di kabupaten ini seluas 15.578 hektare. Proporsi ini menunjukkan bahwa meskipun pemanfaatan lahan cukup luas namun masih ada tantangan dalam menjaga kesinambungan usaha tani.

Kabupaten Pohuwato menjadi sorotan karena mencatat luas lahan tidak diusahakan sementara tertinggi di provinsi ini yaitu mencapai 20.845,5 hektare. Angka ini hampir separuh dari total lahan tidak diusahakan di seluruh Gorontalo. Pohuwato sendiri memiliki tegal atau kebun seluas 45.524,6 hektare dan ladang atau huma sebesar 17.462 hektare. Besarnya angka lahan tidak diusahakan membuka pertanyaan mengenai kendala yang dihadapi petani setempat. Apakah terkait akses, permodalan atau mungkin faktor iklim dan infrastruktur.

Kabupaten Bone Bolango tercatat memiliki luas tegal atau kebun paling kecil dibandingkan wilayah lain kecuali Kota Gorontalo. Hanya 13.077 hektare yang dimanfaatkan untuk kebun. Ladang di Bone Bolango juga terbatas yaitu 3.987 hektare. Namun menariknya daerah ini memiliki luas lahan tidak diusahakan sebesar 13.734 hektare atau lebih dari tiga kali luas ladangnya. Ini menandakan adanya potensi lahan yang belum tergarap secara maksimal yang bila dioptimalkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian daerah.

Kabupaten Gorontalo Utara menunjukkan distribusi yang lebih merata. Tegal atau kebun di wilayah ini mencapai 26.777 hektare sementara ladang atau huma mencapai 9.298 hektare. Lahan tidak diusahakan di kabupaten ini juga cukup signifikan yaitu 7.424 hektare. Meskipun tidak setinggi Pohuwato maupun Bone Bolango angka ini tetap memperlihatkan adanya ruang bagi pengembangan pertanian lebih lanjut di wilayah utara provinsi.

Baca Juga: Melihat Dinamika Produksi Padi Antarwilayah di Gorontalo

Sementara itu Kota Gorontalo menjadi wilayah dengan pemanfaatan lahan pertanian paling kecil. Luas tegal atau kebun hanya 146 hektare dan tidak tercatat memiliki ladang atau huma. Lahan yang tidak diusahakan juga hanya 16 hektare. Ini cukup wajar mengingat karakter Kota Gorontalo yang lebih urban dengan tekanan terhadap konversi lahan yang tinggi.

Jika seluruh data ini dikompilasi maka Provinsi Gorontalo secara keseluruhan memiliki lebih dari 300 ribu hektare lahan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian baik berupa kebun ladang maupun lahan yang sementara menganggur. Namun dengan luas lahan tidak diusahakan yang mencapai 45.236,5 hektare tantangan besar terbentang untuk memastikan bahwa potensi ini benar-benar termanfaatkan.

Upaya pemerintah daerah dalam mendorong pemanfaatan lahan harus menyasar pada optimalisasi lahan tidur serta peningkatan sarana dan prasarana pertanian. Keseimbangan antara perluasan areal tanam dan efisiensi produksi menjadi kunci untuk menjawab kebutuhan pangan yang terus meningkat. Setiap hektare yang belum dimanfaatkan adalah peluang yang belum diwujudkan. Oleh karena itu transformasi lahan pertanian di Gorontalo ke depan akan menjadi penentu penting dalam menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Gorontalo.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#Pertanian #perkebunan #Manado Post #Gorontalo #lahan