MANADOPOST.ID - Produksi tanaman sayuran, khususnya bawang merah, di Provinsi Gorontalo mengalami penurunan signifikan pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), total produksi bawang merah di seluruh wilayah Gorontalo menurun dari 2.373,5 kuintal pada 2023 menjadi hanya 1.956 kuintal pada 2024.
Penurunan ini mencerminkan dinamika pertanian yang terjadi di beberapa kabupaten/kota. Kabupaten Pohuwato tetap menjadi penyumbang terbesar produksi bawang merah dengan kenaikan dari 1.365 kuintal pada 2023 menjadi 1.578 kuintal pada 2024. Lonjakan ini memperkokoh posisi Pohuwato sebagai daerah sentra produksi bawang merah di Gorontalo.
Sebaliknya, daerah lain mengalami tren yang berlawanan. Kabupaten Boalemo mencatat penurunan tajam, dari 97,5 kuintal menjadi hanya 18 kuintal pada 2024. Sementara itu, Kabupaten Gorontalo yang sebelumnya menyumbang 760 kuintal pada 2023 tidak mencatatkan produksi bawang merah sama sekali di tahun 2024. Hal yang sama terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara dan Kota Gorontalo yang tidak memiliki data produksi bawang merah pada kedua tahun tersebut.
Baca Juga: Tiga Kabupaten Kuasai Lahan Bercocok Tanam Terluas di Gorontalo
Satu kejutan datang dari Kabupaten Bone Bolango. Wilayah ini menunjukkan pertumbuhan produksi yang positif, dari 151 kuintal di tahun 2023 menjadi 360 kuintal di 2024. Kenaikan ini patut diapresiasi karena dapat mencerminkan keberhasilan dalam intensifikasi pertanian atau perluasan lahan tanam.
Menariknya, data untuk komoditas cabai besar atau cabai TW/teropong tidak tersedia baik untuk tahun 2023 maupun 2024. Hal ini menimbulkan tanda tanya mengenai kelengkapan pencatatan data atau mungkin mencerminkan tidak adanya aktivitas produksi komoditas tersebut di Gorontalo selama dua tahun terakhir.
Secara keseluruhan, meski terjadi penurunan total produksi bawang merah, beberapa daerah menunjukkan performa yang menjanjikan. Ini bisa menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk meninjau ulang strategi pengembangan hortikultura, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, ketersediaan lahan, dan fluktuasi harga pasar.(pr)
Editor : Pratama Karamoy