Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Perkara Banding di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta Capai Puncak pada Juni 2024, Kinerja Lembaga Peradilan Terus Diuji

Deiby Rotinsulu • Senin, 16 Juni 2025 | 21:02 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.

MANADOPOST.ID– Laporan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta dalam publikasi “Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka 2025” mengungkap dinamika perkara banding yang ditangani oleh Pengadilan Tinggi Agama sepanjang semester pertama tahun 2024.

Data menunjukkan tren yang fluktuatif namun mencerminkan kerja keras lembaga peradilan agama dalam menangani perkara banding, mulai dari penerimaan, pemutusan, hingga proses pengajuan kasasi dan peninjauan kembali.

Dalam periode Januari hingga Juni 2024, tercatat sebanyak 81 perkara banding diterima oleh Pengadilan Tinggi Agama di DKI Jakarta.Dari jumlah tersebut, 13 perkara merupakan sisa dari bulan sebelumnya, sementara 68 perkara diterima baru selama enam bulan pertama tahun ini.

Jumlah perkara yang diterima menunjukkan lonjakan pada bulan Juni, yang mencapai angka tertinggi yaitu 13 kasus baru.

Angka ini sama dengan jumlah pada bulan Januari, yang juga menandai awal tahun dengan volume perkara yang tinggi.

Pengadilan tidak hanya menerima perkara, namun juga aktif menyelesaikannya.

Total ada 93 perkara banding yang diputus dalam rentang waktu tersebut.

Dari seluruh perkara yang diputus, mayoritas—sebanyak 53 kasus—dinyatakan dikabulkan, sementara 33 perkara ditolak dan 7 perkara lainnya tidak diterima.

Tingginya jumlah putusan pada awal tahun, khususnya pada bulan Januari yang mencapai 16 putusan, menunjukkan upaya maksimal dari pengadilan dalam merespons beban perkara yang masuk.

Konsistensi penyelesaian perkara terlihat stabil sepanjang enam bulan tersebut.

Meskipun terjadi penurunan pada beberapa bulan seperti Maret dan April, angka penyelesaian kembali meningkat menjelang pertengahan tahun, menunjukkan pengelolaan perkara yang relatif seimbang dan terkontrol.

Di sisi lain, masih terdapat perkara yang belum diproses hingga bulan Juni, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu hanya satu perkara.

Hal ini dapat menjadi indikator bahwa proses administrasi dan teknis di pengadilan sudah berjalan dengan cukup efisien, dengan hanya sedikit backlog perkara.

Selain perkara banding, data juga mencatat adanya perkara yang diajukan untuk kasasi ke Mahkamah Agung.

Sepanjang Januari hingga Juni 2024, sebanyak 14 perkara diajukan untuk kasasi. Peningkatan terlihat pada bulan Mei dan Juni, masing-masing sebanyak 4 perkara, yang mencerminkan adanya pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan pengadilan tingkat banding dan memilih menempuh jalur hukum lanjutan.

Tak hanya sampai di situ, pengadilan juga menerima pengajuan peninjauan kembali (PK), yakni upaya hukum luar biasa terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Menariknya, jumlah PK tercatat stabil, yakni sebanyak 2 perkara setiap bulannya.

Konsistensi angka ini menunjukkan bahwa mekanisme PK digunakan secara proporsional oleh para pencari keadilan.

Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bagaimana Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta berusaha menjalankan tugas yudisialnya secara profesional dan proporsional, meskipun menghadapi fluktuasi beban perkara yang signifikan.

Kinerja ini mencerminkan respons institusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat akan keadilan, khususnya dalam urusan hukum agama dan keluarga.

Dengan masih adanya perkara yang belum diproses serta pengajuan kasasi dan PK yang terus berjalan, dapat disimpulkan bahwa sistem peradilan masih menghadapi tantangan dalam hal efisiensi dan akurasi putusan.

Namun, pencapaian sepanjang semester pertama 2024 ini memberikan gambaran positif terhadap komitmen pengadilan dalam menegakkan keadilan secara menyeluruh di tengah masyarakat ibu kota. (*)

Editor : Gregorius Mokalu
#Jakarta #data #Banding #agama #Perkara #pengadilan #tinggi