MANADOPOST.ID- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi DKI Jakarta menunjukkan tren positif dalam tiga tahun terakhir, menandai kemajuan yang berkelanjutan di berbagai aspek pembangunan manusia.
Dalam kurun waktu 2021 hingga 2023, IPM DKI Jakarta mengalami peningkatan dari 82,25 menjadi 83,55.
Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang menjadi komponen utama dalam pengukuran IPM.
Pada tahun 2021, IPM DKI Jakarta berada di angka 82,25 dengan usia harapan hidup saat lahir sebesar 75,28 tahun.
Angka ini terus membaik hingga tahun 2023, di mana usia harapan hidup meningkat menjadi 75,81 tahun.
Hal ini menunjukkan perbaikan dalam layanan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat secara umum.
Kemajuan juga terlihat dari indikator pendidikan.
Harapan lama sekolah, yang menunjukkan lama pendidikan yang diharapkan oleh anak-anak yang masuk sistem pendidikan, meningkat dari 13,07 tahun pada 2021 menjadi 13,33 tahun pada 2023.
Sementara itu, rata-rata lama sekolah yang mencerminkan jumlah tahun pendidikan yang dijalani oleh penduduk berusia 25 tahun ke atas juga mengalami kenaikan, dari 11,17 tahun pada 2021 menjadi 11,45 tahun pada 2023.
Angka-angka ini memperlihatkan bahwa akses dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan semakin meningkat.
Selain kesehatan dan pendidikan, peningkatan IPM juga didukung oleh peningkatan pada komponen ekonomi.
Pengeluaran per kapita yang disesuaikan meningkat dari Rp18,520 juta pada tahun 2021 menjadi Rp19,373 juta pada tahun 2023, menandakan meningkatnya daya beli dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Jakarta.
Secara wilayah, Jakarta Selatan secara konsisten menempati posisi tertinggi dalam capaian IPM selama tiga tahun berturut-turut.
Pada tahun 2023, IPM Jakarta Selatan mencapai angka tertinggi yaitu 86,71.
Keunggulan ini ditopang oleh indikator usia harapan hidup tertinggi di DKI Jakarta, yaitu 76,02 tahun, serta capaian pendidikan yang juga tinggi, yaitu harapan lama sekolah 13,66 tahun dan rata-rata lama sekolah 11,75 tahun.
Selain itu, wilayah ini mencatatkan pengeluaran per kapita tertinggi sebesar Rp24,957 juta.
Sebaliknya, Kepulauan Seribu masih menjadi wilayah dengan IPM terendah di DKI Jakarta.
Meskipun demikian, wilayah ini tetap menunjukkan tren positif, di mana IPM meningkat dari 74,65 pada tahun 2021 menjadi 76,32 pada tahun 2023.
Perbaikan ini tercermin dalam peningkatan usia harapan hidup, akses pendidikan, dan pengeluaran per kapita yang terus membaik meski masih tertinggal dibandingkan wilayah lain.
Secara keseluruhan, peningkatan IPM DKI Jakarta mencerminkan arah pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas manusia.
Kenaikan secara bertahap di setiap indikator memberikan sinyal positif terhadap capaian pembangunan berkelanjutan di wilayah ibu kota.
Dengan tren yang terus membaik, DKI Jakarta memperlihatkan komitmennya dalam memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan yang inklusif, layanan kesehatan yang memadai, serta peningkatan kualitas ekonomi yang merata di seluruh wilayah administratifnya. (*)
Editor : Gregorius Mokalu