MANADOPOST.ID – Dunia politik Indonesia mencatat satu nama perempuan yang sukses menembus dominasi laki-laki di kursi pemerintahan provinsi: Ratu Atut Chosiyah. Lahir di Pandeglang, Banten, pada 16 Mei 1962, Atut berasal dari keluarga pengusaha dan tokoh masyarakat berpengaruh di daerahnya, Tb. Chasan Sochib.
Karier politik Ratu Atut dimulai saat ia ditunjuk sebagai Wakil Gubernur Banten mendampingi Djoko Munandar pada 2002. Ketika Djoko terjerat kasus hukum, Atut naik menjadi Gubernur Banten — menjadikannya gubernur perempuan pertama di Indonesia. Ia kemudian terpilih secara langsung dalam dua periode berikutnya, menjabat dari 2007 hingga 2014.
Selama masa pemerintahannya, Ratu Atut dikenal agresif dalam pembangunan infrastruktur, termasuk perbaikan jalan dan pengembangan kawasan industri. Ia juga aktif mendorong penguatan ekonomi lokal dan UMKM, menjadikan Banten sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi stabil saat itu.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa karier politiknya juga diwarnai kontroversi besar. Pada 2014, ia terseret dalam kasus suap Pilkada Lebak dan akhirnya divonis penjara. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik dalam sejarah politik Banten, membuka ruang refleksi soal dinasti politik dan integritas.
Meski demikian, Ratu Atut tetap dikenang sebagai tokoh yang memecah kebuntuan keterwakilan perempuan dalam politik daerah. Sosoknya menginspirasi banyak perempuan Indonesia untuk berani tampil di ruang-ruang kepemimpinan. (*)
Editor : Tanya Rompas