MANADOPOST.ID - Kesejahteraan petani di Provinsi Gorontalo sepanjang tahun 2024 mengalami fluktuasi yang cukup mencolok, tergambar jelas dari data Nilai Tukar Petani (NTP) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik melalui Survei Harga Perdesaan. NTP sendiri merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa konsumsi rumah tangga petani maupun biaya produksi.
Pada Januari, NTP dibuka dengan nilai sebesar 110,42 yang menunjukkan daya beli petani berada pada level yang relatif kuat. Angka tersebut bahkan meningkat pada Februari hingga menyentuh 112,75, menjadikannya sebagai titik tertinggi selama setahun penuh. Peningkatan ini menandakan bahwa harga komoditas pertanian yang dijual petani saat itu memiliki nilai tukar yang tinggi dibandingkan biaya konsumsi dan produksi yang mereka tanggung.
Namun kondisi tersebut tak berlangsung lama. Pada Maret dan April, terjadi penurunan yang cukup tajam. NTP Maret berada di angka 107,94 lalu terus menurun hingga ke titik terendah sepanjang tahun yaitu 105,92 pada April. Fenomena ini bisa mencerminkan adanya penurunan harga hasil pertanian atau meningkatnya kebutuhan pokok petani yang menekan kesejahteraan mereka.
Memasuki Mei dan Juni, NTP mulai menunjukkan pemulihan. Dari 107,46 di bulan Mei, naik signifikan menjadi 109,41 di bulan Juni. Namun, kondisi kembali tertekan pada Juli dengan nilai 107,15 sebelum kembali naik stabil di Agustus ke angka 109,94m.
Baca Juga: Grafik Kendaraan Bermotor di Gorontalo Terus Mendaki dalam Tiga Tahun Terakhir
Puncak lain terjadi pada bulan September, saat NTP mencapai 111,42 yang menjadi angka tertinggi kedua dalam tahun 2024. Lonjakan ini mungkin dipengaruhi oleh membaiknya harga pasar hasil pertanian serta terkendalinya harga barang konsumsi dan input produksi.
Namun menjelang akhir tahun, NTP kembali mengalami koreksi. Oktober tercatat 110,44 kemudian menurun cukup drastis pada November menjadi 107,53. Pada Desember, angka NTP sedikit pulih ke 108,25.
Secara keseluruhan, pergerakan NTP yang dinamis sepanjang tahun menandakan adanya tekanan fluktuatif yang dialami petani, baik dari sisi harga jual hasil produksi maupun harga barang dan jasa konsumsi. Hal ini menjadi cerminan penting bahwa peningkatan kesejahteraan petani membutuhkan stabilisasi harga pasar, akses pasar yang adil, serta penguatan subsidi dan perlindungan dari lonjakan biaya produksi.(pr)
Editor : Pratama Karamoy