MANADOPOST.ID - Pola pengeluaran masyarakat di Provinsi Gorontalo mengalami dinamika menarik sepanjang tahun 2023 dan 2024. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional, terjadi perubahan proporsi antara pengeluaran untuk makanan dan non-makanan di berbagai kabupaten dan kota. Meskipun komposisi belanja bervariasi antarwilayah, makanan tetap menjadi salah satu komponen utama pengeluaran rumah tangga di sebagian besar daerah.
Secara umum, rata-rata pengeluaran masyarakat Gorontalo untuk makanan pada tahun 2024 mencapai 49,18% dari total pengeluaran bulanan per kapita. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 48,09%. Sementara itu, proporsi pengeluaran untuk non-makanan mengalami sedikit penurunan dari 51,91% menjadi 50,82%.
Di antara seluruh wilayah, Kabupaten Boalemo mencatatkan persentase pengeluaran makanan tertinggi yakni sebesar 56,46 % pada 2024. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan pangan masih mendominasi struktur belanja masyarakat Boalemo. Sebaliknya, Kota Gorontalo menempati posisi terendah dalam proporsi pengeluaran makanan yaitu hanya sebesar 41,03%. Sebagian besar pengeluaran warga kota ini justru dialokasikan untuk kebutuhan non-makanan, seperti transportasi, komunikasi, dan pendidikan.
Kabupaten Pohuwato menunjukkan kestabilan dalam pola pengeluaran, dengan persentase makanan yang hampir tidak berubah yakni 53,63% pada 2023 dan 53,37% pada 2024. Sementara Kabupaten Gorontalo menunjukkan perubahan menarik dengan peningkatan proporsi makanan dari 47,18% menjadi 50,29 %, yang menunjukkan kemungkinan terjadinya penyesuaian pola konsumsi masyarakat akibat kondisi sosial ekonomi atau harga kebutuhan pokok.
Baca Juga: Stabilitas Harga Belum Terjaga, Gorontalo Alami Fluktuasi Inflasi
Kabupaten Bone Bolango dan Gorontalo Utara juga memperlihatkan tren serupa. Bone Bolango sedikit menaikkan pengeluaran makanan dari 47,75% ke 48,7%, sedangkan Gorontalo Utara justru mengalami penurunan dari 55,94 persen menjadi 53,39 persen. Hal ini memberi gambaran bahwa pola konsumsi masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan tetapi juga oleh preferensi serta ketersediaan barang dan jasa di masing-masing daerah.
Kota Gorontalo menjadi wilayah paling konsumtif terhadap barang non-makanan. Pada 2024, sebanyak 58,97% dari total pengeluaran digunakan untuk kebutuhan di luar pangan. Meski angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 60,41%, proporsinya tetap yang tertinggi se-Provinsi Gorontalo.
Data ini mengindikasikan adanya pergeseran perilaku konsumsi yang patut dicermati lebih lanjut. Perubahan proporsi antara makanan dan non-makanan mencerminkan dinamika sosial, perkembangan infrastruktur serta akses terhadap layanan di setiap wilayah. Pemerintah daerah dan para pengambil kebijakan dapat memanfaatkan data ini untuk menyusun program peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih terarah.(pr)
Editor : Pratama Karamoy