MANADOPOST.ID - Struktur ekonomi Provinsi Gorontalo pada tahun 2024 masih ditopang kuat oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai 62,07 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding tahun 2023 yang sebesar 61,77 persen, sekaligus menegaskan bahwa daya beli masyarakat tetap menjadi motor utama penggerak roda perekonomian daerah.
Di sisi lain, pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) juga mengalami peningkatan meski dalam porsi kecil. Pada 2024, kontribusinya mencapai 0,79 persen, naik dari 0,74 persen di tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan peran organisasi sosial dan keagamaan semakin aktif dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, pengeluaran konsumsi pemerintah justru mengalami penurunan. Pada tahun 2024, kontribusinya hanya 17,35 persen, turun dari 17,93 persen pada tahun sebelumnya. Tren ini menunjukkan adanya efisiensi atau perubahan arah belanja pemerintah daerah, yang kemungkinan lebih difokuskan pada investasi jangka panjang atau belanja modal.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dalam bentuk aset tetap tetap menjadi komponen penting dalam struktur PDRB Gorontalo. Pada 2024, kontribusinya tercatat sebesar 27,30 persen. Meski sedikit turun dari 27,66 persen di tahun 2023, nilai ini menunjukkan bahwa investasi fisik seperti bangunan, peralatan, dan mesin masih berperan besar dalam pembangunan ekonomi daerah.
Baca Juga: Kinerja Ekspor Gorontalo Meningkat, Apa Yang Jadi Primadona?
Kontribusi perubahan inventori mengalami penurunan signifikan dari 1,44 persen pada 2023 menjadi 1,33 persen di tahun 2024. Hal ini bisa mencerminkan kecenderungan pelaku usaha dalam mengelola stok barang secara lebih efisien atau adanya fluktuasi dalam permintaan pasar.
Yang menarik untuk dicermati adalah posisi neraca ekspor dan impor barang dan jasa yang masih menunjukkan angka negatif. Pada 2024, net ekspor barang dan jasa tercatat sebesar minus 8,85 persen. Sementara itu, ekspor barang dan jasa ke luar negeri mengalami peningkatan dari 1,85 persen menjadi 2,05 persen. Namun impor juga naik dari 0,57 persen ke 0,87 persen, yang turut menyumbang tekanan terhadap neraca perdagangan.
Di sisi lain, net ekspor antar daerah tetap menjadi tantangan dengan kontribusi negatif sebesar minus 10,03 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang mencapai minus 10,82 persen, menunjukkan bahwa ketergantungan Gorontalo terhadap pasokan dari luar provinsi masih tinggi.
Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga tetap menjadi kekuatan utama ekonomi Gorontalo. Pemerintah daerah perlu terus mendorong investasi dan memperkuat konektivitas antarwilayah untuk menekan defisit perdagangan serta memperluas pasar produk lokal.(pr)
Editor : Pratama Karamoy