Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Angka IPM Sulsel Terkoreksi, Naik atau Turun?

Pratama Karamoy • Senin, 11 Agustus 2025 | 07:05 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan yang konsisten selama periode 2021 hingga 2024. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka IPM Sulsel pada 2021 berada di posisi 73,38 kemudian naik menjadi 73,96 pada 2022. Peningkatan terus berlanjut pada 2023 dengan nilai 74,60 dan mencapai 75,18 pada 2024. Kenaikan ini mengindikasikan adanya perbaikan kualitas hidup yang mencakup aspek kesehatan, pendidikan, dan daya beli masyarakat di seluruh wilayah.

Photo
Photo

Kota Makassar menjadi daerah dengan IPM tertinggi di Sulawesi Selatan. Pada 2024, nilainya mencapai 85,23 setelah mengalami kenaikan setiap tahun sejak 2021 yang saat itu berada pada angka 84,00. Kota Parepare menempati posisi kedua dengan IPM 80,97, sedangkan Kota Palopo menyusul dengan angka 81,25. Capaian ini menempatkan ketiga kota tersebut pada kategori pembangunan manusia yang tinggi.

Di sisi lain, terdapat sejumlah daerah yang masih berada pada angka IPM relatif rendah dibandingkan wilayah lain di provinsi ini. Kabupaten Jeneponto pada 2024 memiliki IPM terendah yaitu 69,45 meskipun mengalami kenaikan dari 67,54 pada 2021. Kabupaten Bone dan Bantaeng juga berada di kisaran rendah masing-masing dengan IPM 70,81 dan 72,20 pada 2024. Meski demikian, tren kenaikan di setiap tahun menjadi sinyal positif bahwa kualitas hidup perlahan membaik.

Baca Juga: Laporan BPS Ungkap Kompleksitas Faktor Perceraian di Sulawesi Selatan

Beberapa daerah menunjukkan lonjakan yang cukup signifikan. Kabupaten Luwu Timur misalnya, mencatat kenaikan dari 74,83 pada 2021 menjadi 76,44 pada 2024. Kabupaten Pinrang juga meningkat dari 73,46 pada 2021 menjadi 75,43 pada 2024. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan fasilitas kesehatan, pertumbuhan sektor pendidikan, serta penguatan ekonomi lokal.

Perbedaan nilai IPM antarwilayah mencerminkan adanya ketimpangan pembangunan di Sulawesi Selatan. Daerah perkotaan cenderung memiliki IPM lebih tinggi karena akses yang lebih baik terhadap layanan publik dan infrastruktur, sedangkan sebagian wilayah perdesaan masih menghadapi tantangan dalam pemerataan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan. Upaya peningkatan IPM di masa mendatang akan memerlukan strategi yang lebih fokus pada daerah dengan nilai rendah agar kesenjangan pembangunan dapat ditekan.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#ipm #Sulsel #mpedia #BPS #Manado Post