MANADOPOST.ID - Sulawesi Selatan tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan dan pusat perdagangan di kawasan timur Indonesia. Sulsel juga memiliki peran penting dalam produksi tanaman hias yang menjadi salah satu penopang ekonomi hortikultura. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan geliat dan fluktuasi produksi berbagai jenis tanaman hias selama periode 2021 hingga 2024, yang mencerminkan dinamika pasar sekaligus tantangan bagi pelaku usaha.
Dalam rentang empat tahun terakhir, geliat produksi tanaman hias di Sulawesi Selatan mengalami naik turun yang cukup tajam. Beberapa komoditas sempat mengalami lonjakan signifikan pada tahun tertentu, namun pada tahun berikutnya menurun drastis. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari cuaca ekstrem, perubahan tren pasar, hingga ketersediaan bibit dan biaya perawatan.
Salah satu contoh mencolok adalah produksi Krisan yang pada 2023 mencatat angka luar biasa mencapai 155.207 tangkai, padahal di tahun sebelumnya hanya 1.869 tangkai. Namun, pada 2024 angkanya kembali turun ke 39.062 tangkai. Lonjakan sesaat ini kemungkinan dipicu oleh tingginya permintaan untuk acara perayaan dan pameran, diikuti penyesuaian pasar pada tahun berikutnya.
Komoditas lain yang juga menunjukkan dinamika besar adalah Palem. Dari 1.459 pohon pada 2021, produksinya naik menjadi 11.723 pohon di 2023, sebelum terkoreksi ke 6.729 pohon pada 2024. Hal serupa terjadi pada Sri Rejeki (Aglaonema) yang sempat menembus 15.143 pohon di 2023 sebelum turun menjadi 8.637 pohon di 2024.
Beberapa jenis tanaman mengalami tren penurunan yang konsisten. Dracaena, misalnya, yang awalnya diproduksi 7.000 pohon pada 2021, terus merosot hingga hanya tersisa 322 pohon di 2024. Penurunan ini diduga terkait perubahan minat pasar dan tingginya biaya pemeliharaan.
Sementara itu, beberapa tanaman tetap stabil meskipun volumenya kecil. Bromelia, misalnya, hanya berfluktuasi antara 185 hingga 3.249 pohon selama empat tahun terakhir. Stabilitas ini mencerminkan pangsa pasar yang khusus namun konsisten.
Baca Juga: Bantuan Sosial Pangan di Sulsel Capai 1,4 Triliun Rupiah, Daerah Mana Paling Banyak Penerima?
Data juga menunjukkan bahwa ada sejumlah komoditas yang tidak tercatat produksinya di beberapa tahun, seperti Anthurium Daun, Balanceng, dan Kamboja Jepang. Hal ini kemungkinan disebabkan minimnya permintaan massal atau produksi yang sangat terbatas untuk segmen kolektor.
Melihat dinamika ini, pelaku usaha tanaman hias di Sulawesi Selatan dihadapkan pada tantangan untuk membaca tren dengan tepat. Momen-momen tertentu dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan produksi, namun strategi keberlanjutan menjadi penting agar usaha tetap berjalan meski permintaan sedang turun.
Dengan potensi alam dan keterampilan budidaya yang dimiliki, Sulawesi Selatan memiliki peluang besar untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen tanaman hias unggulan di Indonesia. Kunci keberhasilan ada pada inovasi, manajemen produksi yang adaptif, serta diversifikasi jenis tanaman yang ditawarkan.(pr)
Editor : Pratama Karamoy