MANADOPOST.ID - Tahun 2024 menjadi perjalanan penuh dinamika bagi petani di Sulawesi Selatan. Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan fluktuasi Indeks Harga yang Diterima (It), Indeks Harga yang Dibayar (Ib), dan Nilai Tukar Petani (NTP) pada lima subsektor pertanian utama yakni tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Angka-angka ini tidak sekadar deretan statistik, melainkan cerminan nyata daya beli, kesejahteraan, dan tantangan yang dihadapi petani sepanjang tahun.
Subsektor Tanaman Pangan
Petani tanaman pangan di Sulsel menghadapi tahun yang cukup berat. Indeks harga yang diterima hanya mencapai 127,93 pada Januari, naik hingga 132,19 di Februari, lalu terus berfluktuasi dengan titik terendah di Mei sebesar 118,84. NTP juga jatuh drastis ke 100,66 pada periode tersebut, menjadi sinyal lemahnya daya beli petani akibat biaya produksi yang tinggi. Hingga akhir tahun, kondisi berangsur membaik dengan NTP berada di 105,02 pada Desember, meski tetap tergolong rendah.
Subsektor Hortikultura
Hortikultura mengalami perjalanan berliku dengan penurunan cukup tajam. Pada Januari indeks harga yang diterima tercatat 166,71 dengan NTP 144,21, namun tren menurun terjadi hingga Agustus dengan angka hanya 140,04 dan NTP 120,10. Kondisi terburuk terlihat pada September sampai Oktober ketika NTP merosot ke 109,67 dan 109,19. Meski ada pemulihan di akhir tahun, Desember hanya mencatat NTP 125,95, jauh dari capaian awal tahun.
Baca Juga: Kondisi Jalan Sulsel Memprihatinkan, Luwu Timur Paling Banyak Rusak Berat
Subsektor Perkebunan Rakyat
Sebaliknya, perkebunan rakyat tampil sebagai subsektor paling kuat. Sejak awal tahun dengan NTP 136,19, tren terus menanjak hingga mencapai 178,24 pada Desember. Indeks harga yang diterima petani perkebunan juga meningkat signifikan dari 159,79 pada Januari menjadi 211,79 di penghujung tahun. Lonjakan ini menunjukkan komoditas perkebunan memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kesejahteraan petani di Sulsel.
Subsektor Peternakan
Peternak menghadapi situasi fluktuatif yang cenderung stagnan. NTP pada Januari berada di 107,12, lalu sempat menguat di April hingga 112,38. Namun setelah itu tren menurun kembali, bahkan mencapai titik rendah di November dengan 108,98. Penutupan tahun berada di 110,34, menandakan daya beli peternak belum sepenuhnya pulih.
Subsektor Perikanan
Sektor perikanan juga menghadapi tekanan serupa. Indeks harga yang diterima relatif stabil di kisaran 126 hingga 130, namun NTP bergerak fluktuatif dengan posisi terendah di Februari hanya 108,44. Hingga akhir tahun, perikanan menutup 2024 dengan NTP 109,27, tidak menunjukkan perbaikan signifikan dari awal tahun.
Dari kelima subsektor tersebut, perkebunan menjadi motor utama peningkatan daya beli petani Sulawesi Selatan, sementara subsektor pangan, peternakan, hortikultura, dan perikanan masih menghadapi tantangan besar. Angka-angka ini sekaligus menegaskan perlunya kebijakan yang lebih tajam dalam menjaga stabilitas harga input produksi serta memperkuat nilai tambah hasil pertanian agar kesejahteraan petani semakin meningkat.(pr)
Editor : Pratama Karamoy