MANADOPOST.ID - Perekonomian Sulawesi Selatan terus menunjukkan dinamika menarik dalam kurun waktu 2020 hingga 2024. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bagaimana struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pengeluaran di provinsi ini mengalami pergeseran yang mencerminkan pola konsumsi masyarakat, peran pemerintah, serta kontribusi perdagangan luar negeri dan antar daerah.
Sepanjang periode tersebut, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian. Pada 2020 kontribusinya mencapai 51,74 persen, sedikit menurun pada 2021 menjadi 50,70 persen, lalu bergerak stabil di kisaran 51 persen hingga 2024. Angka ini menegaskan pentingnya daya beli masyarakat Sulsel sebagai motor utama roda ekonomi daerah.
Di sisi lain, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) memang relatif kecil, namun cenderung meningkat. Dari 1,36 persen pada 2020 turun tipis menjadi 1,29 persen pada 2021, lalu naik konsisten hingga 1,62 persen pada 2024. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas sosial dan layanan berbasis masyarakat.
Konsumsi pemerintah juga berkontribusi cukup signifikan meski trennya cenderung menurun. Jika pada 2021 mencapai 8,93 persen, angka ini terus bergerak turun hingga 8,02 persen di 2024. Penurunan ini dapat diartikan sebagai efisiensi belanja pemerintah atau pergeseran ke arah peran swasta dan masyarakat dalam menggerakkan ekonomi.
Baca Juga: Sulsel Catat Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi Kedua dalam Lima Tahun Terakhir
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto yang mencerminkan investasi, tetap menjadi pilar penting. Pada 2021 porsinya mencapai 39,20 persen, namun perlahan menurun hingga 37,57 persen di 2024. Perubahan ini memberi sinyal perlunya dorongan lebih kuat terhadap investasi agar pertumbuhan ekonomi jangka panjang tetap terjaga.
Faktor menarik datang dari net ekspor barang dan jasa yang pada 2020 masih negatif, yakni minus 0,82 persen, namun membaik dari tahun ke tahun hingga mencapai surplus 1,07 persen di 2024. Ekspor barang dan jasa ke luar negeri meningkat, sempat menyentuh 5,62 persen pada 2023 sebelum sedikit turun menjadi 5,42 persen di 2024. Sebaliknya, impor barang dan jasa luar negeri juga meningkat, dari 1,76 persen pada 2021 menjadi 2,72 persen pada 2024. Perbaikan terbesar terlihat pada ekspor antar daerah yang meski masih mencatat angka negatif, defisitnya terus menyempit dari minus 3,35 persen pada 2020 menjadi minus 1,63 persen pada 2024.
Secara keseluruhan, komposisi pengeluaran ini menggambarkan keseimbangan antara konsumsi, investasi, dan perdagangan. Perekonomian Sulawesi Selatan bukan hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga mulai menunjukkan perbaikan dalam perdagangan antar daerah maupun internasional. Ke depan, tantangan terbesar terletak pada bagaimana menjaga momentum daya beli masyarakat, mendorong investasi baru, serta memperkuat daya saing ekspor agar struktur ekonomi semakin kokoh dan berkelanjutan.(pr)
Editor : Pratama Karamoy