MANADOPOST.ID - Perjalanan ekonomi Sulawesi Selatan dalam empat tahun terakhir memperlihatkan dinamika menarik. Data distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Kota Makassar masih menjadi pusat penggerak utama dengan kontribusi terbesar dibandingkan daerah lain, meski tren persentasenya cenderung menurun dari tahun ke tahun.
Pada 2020, Kota Makassar menyumbang 35,23 persen dari total PDRB Sulawesi Selatan. Angka ini menurun menjadi 34,47 persen pada 2022 dan diproyeksikan stabil di sekitar 34,84 persen pada 2024. Walau masih dominan, tren penurunan ini menunjukkan semakin berkembangnya kontribusi daerah lain di provinsi ini.
Beberapa kabupaten mencatat peningkatan yang konsisten. Kabupaten Luwu Utara misalnya, naik dari 2,62 persen pada 2020 menjadi 2,82 persen pada 2024. Hal serupa terjadi di Kabupaten Bantaeng yang mengalami lonjakan dari 1,77 persen pada 2020 menjadi 1,93 persen pada 2024, menandakan pergeseran dinamika ekonomi di wilayah selatan Sulawesi.
Sementara itu, Kabupaten Bone tetap menjadi daerah penyumbang terbesar kedua setelah Makassar. Kontribusinya berkisar stabil di angka 7,2 persen sepanjang periode 2020 hingga 2024. Pangkajene dan Kepulauan juga mempertahankan peran signifikan dengan distribusi PDRB mendekati 5 persen.
Baca Juga: PDRB Sulawesi Selatan: Konsumsi Dominan, Ekspor Mulai Menguat
Menariknya, beberapa daerah dengan basis ekonomi agraris juga menunjukkan stabilitas. Kabupaten Wajo misalnya sempat mencatat 4,09 persen pada 2021 sebelum sedikit turun menjadi 3,72 persen pada 2024. Kabupaten Gowa relatif stabil dengan kisaran 4,2 hingga 4,4 persen. Luwu Timur bahkan sempat melonjak hingga 4,69 persen pada 2022 dan 2023 sebelum turun ke 4,36 persen di 2024.
Perubahan angka distribusi ini mencerminkan diversifikasi ekonomi Sulawesi Selatan. Daerah-daerah yang dahulu dianggap hanya sebagai penopang kini mulai menguat kontribusinya. Dengan basis pertanian, perkebunan, pertambangan, serta industri yang kian berkembang, wilayah seperti Luwu Raya, Bantaeng, hingga Maros menunjukkan potensi besar dalam mengurangi ketergantungan pada dominasi Makassar.
Melihat tren hingga 2024, Sulawesi Selatan berada pada jalur menuju pemerataan kontribusi ekonomi antarwilayah. Namun demikian, Kota Makassar masih akan menjadi episentrum utama pertumbuhan, baik sebagai pusat perdagangan, jasa, maupun industri modern yang menopang aktivitas ekonomi provinsi secara keseluruhan.(pr)
Editor : Pratama Karamoy