MANADOPOST.ID - Program Keluarga Berencana (KB) di Kota Bitung kembali menyuguhkan catatan menarik yang patut dicermati. Data resmi dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana mengungkapkan jumlah peserta baru berdasarkan metode kontrasepsi yang digunakan per bulan sepanjang tahun 2021 hingga 2024. Hasilnya menunjukkan pola yang fluktuatif dengan kecenderungan menurun tajam dalam tiga tahun terakhir.
Pada tahun 2021, partisipasi masyarakat begitu tinggi. Tercatat 752 orang menggunakan pil, 87 orang memilih IUD, 203 orang memakai kondom, 37 menjalani metode operasi wanita (MOW), serta 4 orang memilih metode operasi pria (MOP). Angka ini menandai antusiasme besar terhadap program KB pada periode tersebut.
Namun, tren itu berubah drastis di tahun berikutnya. Tahun 2022 hanya tercatat 12 pengguna pil, 160 pemakai IUD, tanpa peserta baru yang menggunakan kondom, sementara metode operasi wanita dipilih 84 orang dan metode operasi pria 24 orang. Jumlah peserta baru semakin menurun pada 2023 dengan hanya 4 pengguna pil, 46 IUD, 32 MOW, dan 7 MOP. Tahun 2024 pun tidak jauh berbeda, bahkan lebih kecil dengan 6 pengguna pil, 89 IUD, 2 kondom, 65 MOW, serta 5 MOP.
Jika dilihat dari pergerakan bulanan di tahun terakhir, metode IUD terlihat masih cukup konsisten digunakan, misalnya 14 akseptor baru di bulan Mei dan Juni 2024, serta 14 lainnya pada September. Metode operasi wanita juga relatif stabil, dengan 10 orang di bulan Juni, 9 orang di Agustus, serta 8 orang di Desember. Sebaliknya, penggunaan pil dan kondom terlihat sangat kecil dan sporadis, hanya muncul di beberapa bulan tertentu.
Baca Juga: Data Lengkap Sebaran Faskes di Bitung, Bikin Warga Tenang!
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran masyarakat terhadap KB tetap ada, pilihan kontrasepsi mereka semakin terkonsentrasi pada metode tertentu seperti IUD dan MOW. Perubahan tren ini bisa dipengaruhi oleh preferensi masyarakat terhadap efektivitas jangka panjang, faktor kesehatan, maupun rekomendasi dari tenaga medis.
Kondisi ini sekaligus memberi gambaran tentang tantangan besar yang dihadapi program KB di Bitung. Lonjakan peserta baru di awal periode belum mampu dipertahankan, sehingga keberlanjutan partisipasi perlu diperkuat dengan edukasi yang lebih masif, kemudahan akses layanan, serta pemerataan distribusi alat kontrasepsi. Karena pada akhirnya, keberhasilan program KB tidak hanya terukur dari angka peserta baru, tetapi juga dari konsistensi masyarakat dalam memilih dan menggunakan metode kontrasepsi sesuai kebutuhan.(pr)
Editor : Pratama Karamoy