Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Angka Pasangan Belum KB di Bitung Masih Tinggi, Ini Sebaran per Kecamatan

Pratama Karamoy • Selasa, 30 September 2025 | 09:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANADOPOST.ID - Program Keluarga Berencana (KB) di Kota Bitung masih menghadapi tantangan besar. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pasangan usia subur yang belum menjadi peserta KB masih cukup tinggi meski mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir. Fenomena ini menggambarkan bahwa sebagian masyarakat masih enggan atau belum terjangkau oleh program KB, sehingga menuntut strategi yang lebih intensif dari pemerintah setempat.

Photo
Photo

Pada 2020, tercatat sebanyak 6.235 pasangan usia subur di Bitung yang belum berpartisipasi dalam KB. Angka ini naik menjadi 6.573 pasangan pada 2021. Lonjakan besar terjadi pada 2022 ketika jumlahnya hampir dua kali lipat mencapai 12.682 pasangan. Tahun berikutnya jumlah tersebut turun signifikan menjadi 8.707 dan pada 2024 kembali sedikit menurun menjadi 8.293 pasangan.

Jika ditelusuri per kecamatan, pola yang muncul cukup beragam. Kecamatan Matuari dan Maesa menjadi wilayah dengan angka pasangan usia subur bukan peserta KB paling tinggi. Pada 2024, Matuari mencatat 1.850 pasangan dan Maesa mencapai 1.500 pasangan. Sementara Kecamatan Madidir juga cukup menonjol dengan 1.551 pasangan.

Di sisi lain, ada kecamatan dengan angka lebih rendah. Lembah Selatan pada 2024 hanya mencatat 335 pasangan, Lembah Utara 435 pasangan, dan Ranowulu 818 pasangan. Meski lebih kecil, jumlah ini tetap menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa partisipasi KB belum merata di semua wilayah.

Baca Juga: Bitung Berhasil Pertahankan Imunisasi Tinggi, Sudah Merata?

Tren lonjakan drastis di 2022 menarik untuk dicermati. Hampir semua kecamatan mengalami peningkatan signifikan pada tahun tersebut. Madidir naik hingga 2.810 pasangan, sementara Aertembaga mencapai 1.566 pasangan. Kondisi ini bisa menjadi cerminan adanya hambatan atau perubahan perilaku masyarakat terhadap KB, baik karena faktor akses layanan, kondisi sosial ekonomi, maupun faktor budaya dan persepsi tentang kontrasepsi.

Menurunnya angka pada 2023 dan 2024 memang menjadi sinyal positif bahwa ada perbaikan partisipasi, tetapi jumlah yang masih tinggi tetap menjadi pekerjaan rumah. Program sosialisasi, edukasi, serta pelayanan KB yang lebih mudah diakses masih sangat dibutuhkan agar masyarakat makin sadar akan pentingnya perencanaan keluarga bagi kesejahteraan bersama.(pr)

Editor : Pratama Karamoy
#Kesehatan #mpedia #BPS #KB #bitung