MANADOPOST.ID - Kota Bitung kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan keragaman agama yang kuat di Sulawesi Utara. Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bitung tahun 2024 menunjukkan peta persebaran penduduk berdasarkan agama yang dianut di setiap kecamatan. Keragaman ini tidak hanya mencerminkan kehidupan sosial masyarakat yang majemuk, tetapi juga menjadi wajah toleransi yang sudah lama terjaga di kota pelabuhan ini.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang tercatat mencapai puluhan ribu jiwa dengan distribusi keyakinan yang menarik untuk dicermati. Protestan menjadi kelompok agama dengan jumlah terbesar, mencapai 129.745 jiwa. Posisi kedua ditempati oleh umat Islam dengan 78.358 jiwa, sementara Katolik tercatat sebanyak 7.320 jiwa. Kehadiran umat Hindu, Budha, Konghuchu, serta kepercayaan lainnya juga menambah warna pada kehidupan masyarakat Bitung meskipun jumlahnya relatif kecil, masing-masing sebanyak 236 jiwa untuk Hindu, 327 jiwa untuk Budha, 34 jiwa untuk Konghuchu, dan 6 jiwa yang menganut kepercayaan lain.
Jika ditelusuri lebih dalam per kecamatan, Kecamatan Girian mencatat jumlah umat Islam terbesar yakni 21.141 jiwa. Sementara itu, Matuari menjadi wilayah dengan jumlah umat Protestan terbanyak yaitu 25.475 jiwa. Menariknya, Kecamatan Ranowulu justru menonjol dalam keseimbangan antara jumlah umat Islam, Protestan, maupun Katolik. Sedangkan di Aertembaga, jumlah penganut Katolik cukup signifikan dibandingkan kecamatan lainnya dengan 656 jiwa.
Baca Juga: Angka Pasangan Belum KB di Bitung Masih Tinggi, Ini Sebaran per Kecamatan
Kehadiran agama-agama minoritas juga tercatat jelas. Hindu misalnya, paling banyak ditemukan di Kecamatan Matuari dengan 115 jiwa. Umat Budha terbanyak berada di Kecamatan Madidir dengan 99 jiwa. Sementara penganut Konghuchu paling banyak berada di Kecamatan Madidir dengan 17 jiwa. Fakta ini menunjukkan bahwa meski jumlahnya tidak dominan, keberadaan mereka tetap memiliki ruang dalam struktur sosial Kota Bitung.
Angka-angka tersebut bukan hanya sekadar data statistik, melainkan cermin nyata kehidupan masyarakat yang terus tumbuh di tengah perbedaan. Kota Bitung, dengan segala keragamannya, menjadi contoh bahwa harmoni antarumat beragama bisa berjalan beriringan dan menjadi kekuatan sosial yang mendukung pembangunan daerah.(pr)
Editor : Pratama Karamoy