MANADOPOST.ID - Kota Bitung kembali meneguhkan identitasnya sebagai kota yang kaya akan keberagaman agama dan toleransi sosial. Data terbaru dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tahun 2024 serta Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bitung tahun 2025 memperlihatkan bagaimana jumlah penganut agama dan ketersediaan rumah ibadah saling berkaitan, mencerminkan harmoni yang telah lama menjadi ciri khas dari kota pelabuhan ini.
Secara demografis, umat Protestan menempati posisi terbesar dengan jumlah 129.745 jiwa. Disusul umat Islam dengan 78.358 jiwa, Katolik sebanyak 7.320 jiwa, Hindu 236 jiwa, Budha 327 jiwa, Konghuchu 34 jiwa, serta 6 jiwa yang tercatat menganut kepercayaan lain. Angka-angka ini menegaskan betapa majemuknya masyarakat Bitung dengan corak keyakinan yang beragam.
Keragaman penduduk tersebut tampak sejalan dengan jumlah rumah ibadah yang berdiri di seluruh kecamatan. Kota Bitung memiliki 95 masjid dan 4 mushola untuk melayani kebutuhan spiritual umat Islam. Jumlah ini paling banyak berada di Kecamatan Maesa yang mencatat 25 masjid, sementara Girian memiliki 18 masjid, dan Madidir 16 masjid.
Di sisi lain, umat Protestan yang menjadi mayoritas memiliki akses ke 457 gereja yang tersebar di seluruh wilayah kota. Kecamatan Matuari mencatat jumlah gereja Protestan terbanyak, yaitu 109, diikuti Madidir dengan 72 gereja, serta Ranowulu dengan 58 gereja. Kehadiran gereja ini menjadi bukti nyata kuatnya akar umat Kristen di Bitung.
Baca Juga: Data Resmi Tunjukkan Perubahan Drastis Cara KB Warga Bitung, Apa Yang Berubah?
Umat Katolik juga terlayani dengan 20 gereja, dengan konsentrasi tertinggi di Ranowulu yang memiliki 8 gereja, diikuti Matuari dengan 4 gereja. Sementara itu, keberadaan agama-agama minoritas pun mendapat ruang. Umat Hindu memiliki sebuah pura, umat Budha memiliki satu vihara, dan penganut Konghuchu tercatat memiliki dua klenteng yang berlokasi di Madidir dan Maesa.
Bila melihat secara menyeluruh, Kecamatan Madidir menjadi wilayah dengan rumah ibadah paling beragam karena mencatat keberadaan masjid, mushola, gereja Protestan, gereja Katolik, vihara, serta klenteng. Kondisi ini mempertegas bagaimana Bitung benar-benar menjadi rumah bersama bagi masyarakat dari berbagai keyakinan.
Keterkaitan antara jumlah penduduk dengan ketersediaan rumah ibadah ini bukan sekadar angka statistik, tetapi gambaran nyata bagaimana Kota Bitung menjaga keseimbangan sosial dan keberagaman. Dengan puluhan ribu penduduk dari berbagai agama yang tersebar di delapan kecamatan, harmoni tetap terjaga melalui ruang-ruang ibadah yang berdiri berdampingan. Kota ini pun menjadi salah satu contoh bahwa toleransi bukan hanya slogan, melainkan kenyataan hidup sehari-hari.(pr)
Editor : Pratama Karamoy