MANADOPOST.ID - Kota Bitung menunjukkan dinamika menarik dalam sektor tanaman obat tradisional atau biofarmaka selama empat tahun terakhir. Data dari Badan Pusat Statistik melalui publikasi Kota Bitung Dalam Angka 2025 mencatat bahwa produksi tanaman obat di wilayah ini mengalami fluktuasi tajam dari tahun 2021 hingga 2024.
Dari seluruh jenis tanaman yang tercatat, jahe kembali menjadi primadona. Pada 2021, produksi jahe mencapai 56.271 kilogram, melonjak hampir lima kali lipat di tahun 2022 menjadi 295.943 kilogram. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama karena pada 2023 hasil panen turun menjadi 108.677 kilogram dan berlanjut menurun lagi menjadi 38.640 kilogram pada 2024. Meski mengalami penurunan, jahe tetap menjadi penyumbang terbesar dalam produksi biofarmaka di Kota Bitung.
Selain jahe, kunyit tampil sebagai komoditas kedua yang cukup menonjol. Pada 2021, produksi kunyit sebesar 28.312 kilogram dan meningkat pesat menjadi 193.503 kilogram di tahun 2022. Namun seperti halnya jahe, produksi kunyit juga menurun tajam menjadi 80.552 kilogram di 2023 dan hanya tersisa 8.269 kilogram di tahun 2024.
Kencur menjadi salah satu tanaman obat yang mulai menunjukkan geliat produksi di Bitung. Pada 2022, tanaman ini mencatat hasil 328 kilogram dan meningkat perlahan menjadi 177 kilogram pada 2024 setelah sempat menurun di 2023. Meski angkanya belum besar, keberadaan kencur memberi sinyal positif terhadap diversifikasi tanaman biofarmaka lokal.
Laos atau lengkuas juga menjadi bagian penting dari data ini. Produksi laos meningkat dari 1.907 kilogram pada 2021 menjadi 4.680 kilogram pada 2022, kemudian mengalami penurunan menjadi 330 kilogram di 2023 dan 95 kilogram di 2024. Kondisi ini menunjukkan tren serupa dengan jahe dan kunyit, di mana puncak produksi terjadi pada 2022 sebelum mulai menurun kembali.
Baca Juga: Bitung Kian Aman? Data Kepolisian Mengungkap Cerita di Baliknya
Sementara itu, lidah buaya yang dikenal sebagai tanaman serbaguna hanya mencatat produksi kecil, yaitu 590 kilogram pada 2022, kemudian turun menjadi 305 kilogram pada 2023 dan 120 kilogram di tahun 2024. Temulawak pun menunjukkan pola yang sama, dari 204 kilogram di 2021 turun menjadi 49 kilogram pada 2024.
Beberapa tanaman lain seperti kapulaga, keji beling, mahkota dewa, mengkudu, sambiloto, temuireng, dan temukunci belum menunjukkan aktivitas produksi yang signifikan selama empat tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan tanaman obat di Bitung masih terfokus pada komoditas tertentu yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi seperti jahe dan kunyit.
Pergerakan angka ini tidak hanya mencerminkan dinamika iklim dan pola tanam, tetapi juga menggambarkan tantangan dalam mempertahankan produktivitas sektor biofarmaka. Diperlukan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan tanaman herbal di Kota Bitung, seperti peningkatan pembinaan petani, penguatan riset pasca panen, dan perluasan akses pasar produk herbal lokal.
Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Bitung sebenarnya berpotensi menjadi salah satu sentra tanaman obat di Sulawesi Utara. Tinggal bagaimana sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha bisa diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat pertanian biofarmaka.(pr)
Editor : Pratama Karamoy