MANADOPOST.ID - Kota Bitung kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat perikanan laut utama di Indonesia. Namun, data terbaru menunjukkan adanya dinamika menarik dalam tren produksinya selama lima tahun terakhir. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Kota Bitung, produksi perikanan laut dari sektor non pelabuhan mengalami fluktuasi yang cukup signifikan antara tahun 2020 hingga 2024.
Pada tahun 2020, total produksi mencapai 47,5 juta kilogram. Tahun berikutnya, angka ini meningkat tipis menjadi 48,4 juta kilogram, menunjukkan adanya perbaikan pasca tahun pandemi. Tren positif berlanjut di tahun 2022 dengan lonjakan mencapai 58,1 juta kilogram, menandakan aktivitas penangkapan ikan mulai pulih sepenuhnya.
Puncak produksi terjadi pada tahun 2023, di mana total tangkapan mencapai 62,5 juta kilogram, menjadi capaian tertinggi selama lima tahun terakhir. Kenaikan ini disinyalir dipengaruhi oleh cuaca laut yang relatif bersahabat, peningkatan armada nelayan lokal, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah terhadap penguatan sektor kelautan dan perikanan.
Namun, di tahun 2024, grafik menunjukkan penurunan cukup tajam menjadi 42,4 juta kilogram. Angka ini bahkan lebih rendah dari capaian produksi tahun 2020. Penurunan tersebut diduga akibat faktor cuaca ekstrem di awal tahun, meningkatnya biaya operasional nelayan, serta terbatasnya hasil tangkapan di beberapa wilayah penangkapan utama.
Jika ditelusuri per semester, tahun 2023 mencatat produksi 26,3 juta kilogram di semester pertama dan meningkat tajam menjadi 36,1 juta kilogram di semester kedua. Sementara pada tahun 2024, semester pertama hanya menghasilkan 20,2 juta kilogram, dengan sedikit kenaikan menjadi 22,2 juta kilogram di semester berikutnya.
Baca Juga: Peternakan Unggas di Bitung Tumbuh Positif, Ini Rahasianya
Fluktuasi ini memberikan gambaran bahwa sektor perikanan laut di Bitung masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas produksi. Meskipun demikian, potensi besar tetap terbuka mengingat posisi strategis Bitung di pesisir utara Sulawesi yang menjadi jalur utama distribusi hasil laut ke berbagai daerah di Indonesia bahkan ke luar negeri.
Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat dukungan terhadap nelayan, mulai dari penyediaan sarana tangkap, modernisasi armada, hingga pembinaan koperasi perikanan agar ketahanan ekonomi pesisir tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi pasar global.(pr)
Editor : Pratama Karamoy