MANADOPOST.ID - Kebutuhan air bersih di Kota Bitung terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin dinamis. Namun di tengah meningkatnya permintaan, data terbaru menunjukkan bahwa produksi air bersih justru mengalami penurunan selama tahun 2024.
Laporan resmi PDAM Kota Bitung mencatat bahwa jumlah pelanggan air bersih pada tahun 2024 telah mencapai 21.378 pelanggan, meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Sebaran pelanggan ini menunjukkan bagaimana air bersih telah menjadi kebutuhan vital di seluruh wilayah kota. Kecamatan Maddidir tercatat sebagai wilayah dengan pelanggan terbanyak mencapai 5.993 pelanggan, disusul Girian dengan 5.851 pelanggan dan Matuari sebanyak 3.570 pelanggan.
Sementara itu, Ranowulu dan Maesa memiliki masing-masing 2.700 dan 2.332 pelanggan, sedangkan Aertembaga tercatat 932 pelanggan. Dua kecamatan lain yaitu Lembeh Selatan dan Lembeh Utara belum memiliki data pelanggan yang tercatat dalam laporan 2024. Kondisi ini mengindikasikan masih adanya wilayah yang belum sepenuhnya terlayani jaringan air bersih, terutama di kawasan kepulauan.
Pertumbuhan pelanggan yang terus naik ini di satu sisi menggambarkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya air bersih, namun di sisi lain menghadirkan tantangan baru bagi PDAM dalam menjaga kestabilan pasokan.
Baca Juga: Bitung Bersinar, Kapasitas dan Gardu Listrik Terus Diperluas
Data PDAM Kota Bitung menunjukkan bahwa total produksi air bersih pada tahun 2024 mencapai 7,41 juta meter kubik, menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 8,31 juta meter kubik. Penurunan ini menjadi perhatian serius mengingat jumlah pelanggan yang terus bertambah.
Fluktuasi produksi air terjadi hampir di setiap bulan. Januari tercatat sebagai bulan dengan produksi tertinggi sebesar 668.671 meter kubik, sementara Juli menjadi bulan terendah dengan 556.437 meter kubik. Produksi di bulan-bulan lain seperti April dan Agustus masih berada pada kisaran 650 ribu meter kubik, menunjukkan usaha PDAM menjaga kestabilan meski menghadapi keterbatasan sumber air baku.
Tren lima tahun terakhir memperlihatkan bahwa produksi air bersih Bitung memang mengalami penurunan bertahap. Tahun 2020 produksi air masih berada di angka 8,27 juta meter kubik, kemudian menurun menjadi 8,09 juta meter kubik pada 2021, sedikit meningkat di 2022, dan turun kembali di 2023 hingga 2024. Penurunan lebih dari 10 persen dalam dua tahun terakhir menandakan adanya tekanan signifikan terhadap sumber daya air dan infrastruktur pengolahan.
Menurut PDAM Kota Bitung, faktor cuaca, kondisi jaringan pipa, serta ketersediaan air baku menjadi penyebab utama fluktuasi ini. Meski demikian, PDAM berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem distribusi, meningkatkan efisiensi, dan memperluas jangkauan layanan ke wilayah yang belum sepenuhnya terlayani.
Pemerintah Kota Bitung diharapkan dapat memberikan dukungan lebih besar dalam pengembangan infrastruktur air bersih, termasuk pembangunan sumur cadangan dan optimalisasi instalasi pengolahan. Akses air bersih yang merata tidak hanya menjadi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi dan kesehatan lingkungan kota.
Jika tantangan ini dapat diatasi, Bitung memiliki peluang besar untuk menjadi contoh kota pesisir yang tangguh dan berkelanjutan dalam pengelolaan air bersih. Keseimbangan antara pertumbuhan pelanggan dan produksi air yang memadai akan menjadi kunci menjaga kualitas hidup warganya di masa mendatang.(pr)
Editor : Pratama Karamoy