MANADOPOST.ID - Perubahan pola mobilitas masyarakat di Kota Bitung selama satu dekade terakhir menunjukkan dinamika yang menarik. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bitung tahun 2024, jumlah kendaraan angkutan umum di kota ini mengalami penurunan signifikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Tren ini mencerminkan pergeseran kebiasaan masyarakat dalam memilih moda transportasi serta tantangan baru yang harus dihadapi dalam penyediaan layanan publik yang efisien.
Pada tahun 2014, tercatat sebanyak 738 unit angkutan umum yang beroperasi di seluruh wilayah Bitung, terdiri dari 524 angkutan kota, 164 angkutan antar kota, dan 50 angkutan pedesaan. Namun, pada tahun 2024 jumlah tersebut menyusut tajam menjadi hanya 129 unit, dengan rincian 99 angkutan kota dan 30 angkutan pedesaan. Angkutan antar kota bahkan sudah tidak lagi tercatat dalam data terbaru.
Penurunan paling drastis terjadi setelah tahun 2021, ketika jumlah kendaraan masih mencapai 667 unit. Setahun kemudian, angka itu merosot menjadi 202 unit dan terus turun hingga di bawah dua ratus pada 2023. Situasi ini menunjukkan bahwa sebagian besar kendaraan angkutan umum sudah tidak lagi beroperasi atau beralih fungsi.
Perubahan tersebut tidak lepas dari meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi dan layanan transportasi berbasis aplikasi. Banyak warga kini lebih memilih kendaraan online yang dinilai lebih cepat, fleksibel, dan nyaman dibanding angkutan konvensional. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kembali kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik.
Baca Juga: Satu Dekade Kendaraan di Bitung, Ini Tren yang Tak Disadari Banyak Orang
Meski demikian, angkutan pedesaan menunjukkan tren yang relatif stabil dengan jumlah kendaraan yang tetap berada di kisaran 30 unit dalam tiga tahun terakhir. Keberadaan angkutan jenis ini masih menjadi tumpuan utama mobilitas warga di kawasan pinggiran dan perdesaan Bitung.
Dengan tantangan yang semakin kompleks, kebijakan transportasi di Bitung ke depan diharapkan tidak hanya fokus pada jumlah armada, tetapi juga pada kualitas layanan, ketepatan waktu, dan keberlanjutan sistem. Harapannya, angkutan umum dapat kembali menjadi pilihan utama masyarakat, sejalan dengan upaya mewujudkan kota yang ramah lingkungan dan efisien dalam mobilitas.(pr)
Editor : Pratama Karamoy