MANADOPOST.ID - Kota Bitung mencatat dinamika menarik dalam sektor transportasi publik selama sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bitung tahun 2024, jumlah trayek penumpang di wilayah ini cenderung stabil sejak 2018 dengan total dua belas trayek aktif. Namun, jumlah armada yang melayani trayek tersebut terus mengalami penurunan signifikan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2014, terdapat 13 trayek angkutan umum dengan 524 kendaraan yang beroperasi melayani kebutuhan mobilitas masyarakat. Namun sepuluh tahun kemudian, angka tersebut menyusut menjadi 12 trayek dengan hanya 129 kendaraan yang masih aktif beroperasi. Penurunan ini menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi sektor transportasi umum di tengah perubahan perilaku mobilitas warga.
Data menunjukkan bahwa pada periode 2014 hingga 2017, jumlah armada mengalami penurunan bertahap dari 524 menjadi 402 unit. Kondisi ini kemudian memburuk pada 2019 ketika jumlah kendaraan hanya mencapai 276 unit, dan terus menurun hingga 172 unit pada 2022. Tren ini berlanjut sampai 2024 dengan total armada hanya 129 unit, sementara jumlah trayek tidak lagi bertambah.
Menurunnya jumlah armada di Kota Bitung dapat dikaitkan dengan beberapa faktor. Salah satunya adalah beralihnya masyarakat ke moda transportasi berbasis teknologi yang menawarkan layanan lebih fleksibel dan efisien. Selain itu, sebagian besar kendaraan umum konvensional telah berusia tua sehingga tidak lagi layak beroperasi. Di sisi lain, pengusaha transportasi juga menghadapi tantangan ekonomi yang membuat sulit untuk memperbarui armada.
Baca Juga: Bitung Catat 38 Ribu Kendaraan, Roda Dua Masih Tak Tertandingi
Meski jumlah kendaraan terus menurun, keberlanjutan dua belas trayek yang ada menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk tetap menjaga aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi publik. Trayek tersebut tersebar di berbagai wilayah strategis kota, menghubungkan kawasan pemukiman dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik.
Tren penurunan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku transportasi untuk beradaptasi. Transformasi digital dan kolaborasi dengan sektor swasta dapat menjadi kunci dalam membangkitkan kembali transportasi publik di Bitung yang berperan vital dalam mendukung aktivitas ekonomi dan sosial warga kota.(pr)
Editor : Pratama Karamoy