MANADOPOST.ID - Warga Kota Bitung kini semakin konsumtif, namun arah pengeluaran mereka mulai bergeser. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Kota Bitung Dalam Angka 2025 menunjukkan peningkatan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan yang cukup mencolok, dari Rp1.385.559 pada tahun 2023 menjadi Rp1.568.911 pada 2024. Kenaikan ini menandakan daya beli masyarakat yang terus menguat seiring dengan pertumbuhan ekonomi lokal dan aktivitas industri yang dinamis.
Namun, di balik kenaikan angka tersebut, terjadi perubahan menarik dalam pola konsumsi warga Bitung. Jika sebelumnya sebagian besar pengeluaran lebih banyak terserap untuk makanan, kini masyarakat mulai banyak mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan nonpangan seperti perumahan, barang tahan lama, dan jasa.
Makanan Masih Jadi Pengeluaran Utama, Tapi Polanya Berubah
Kelompok makanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur pengeluaran masyarakat. Pada tahun 2024, rata-rata pengeluaran untuk makanan mencapai Rp777.713 per kapita per bulan, naik dari Rp715.759 pada 2023. Kenaikan ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar tetap menjadi prioritas utama rumah tangga di Bitung.
Namun, jika dilihat dari persentasenya, proporsi pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran mulai menurun. Beberapa kelompok bahkan mengalami penurunan cukup signifikan. Misalnya, padi-padian turun dari 13,61 persen menjadi 6,17 persen. Begitu juga dengan ikan, udang, cumi, dan hasil laut yang sebelumnya menyerap 10,89 persen, kini hanya 5,30 persen.
Baca Juga: Data BPS: Bitung Sukses Kendalikan Harga Bahan Pokok Harian Sepanjang Tahun
Kelompok daging, telur, dan susu juga mengalami penurunan persentase masing-masing dari 3,54 menjadi 1,47 persen dan 5,57 menjadi 2,50 persen. Penurunan ini bisa jadi dipengaruhi oleh harga komoditas yang fluktuatif atau adanya pergeseran selera masyarakat terhadap jenis makanan siap saji.
Kategori makanan dan minuman jadi masih menjadi primadona dengan nilai pengeluaran yang meningkat dari Rp232.888 menjadi Rp245.785. Meski begitu, secara persentase, proporsinya terhadap total konsumsi menurun dari 32,54 persen menjadi 15,67 persen. Artinya, meski masyarakat masih sering membeli makanan olahan, porsinya dalam struktur belanja keseluruhan tidak lagi sebesar sebelumnya.
Satu hal yang cukup menonjol adalah lonjakan pengeluaran untuk rokok yang naik tajam dari Rp70.063 menjadi Rp100.336 per bulan. Namun secara proporsi, justru turun dari 9,79 persen menjadi 6,40 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa meski pengeluaran nominalnya meningkat, konsumsi rokok mulai berkurang dibandingkan pengeluaran total masyarakat.
Buah dan Produk Siap Saji Naik, Daging dan Minyak Turun
Selain makanan siap saji, pengeluaran untuk buah-buahan melonjak dari Rp26.975 menjadi Rp49.542. Hal ini menggambarkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat.
Sebaliknya, pengeluaran untuk daging turun dari Rp25.336 menjadi Rp22.994, dan minyak kelapa juga menurun dari Rp23.346 menjadi Rp19.006. Pergeseran ini memperlihatkan adanya penyesuaian konsumsi terhadap harga bahan pangan serta variasi preferensi rumah tangga.
Non-pangan Naik Drastis, Sektor Perumahan Paling Besar
Sementara itu, kelompok nonpangan mengalami kenaikan lebih tajam dibandingkan kelompok makanan. Pada tahun 2023, pengeluaran rata-rata untuk nonpangan mencapai Rp669.800 dan melonjak menjadi Rp791.198 pada tahun 2024.
Faktor utama pendorong kenaikan ini berasal dari sektor perumahan dan fasilitas rumah tangga yang naik dari Rp339.945 menjadi Rp383.246. Persentasenya terhadap total pengeluaran nonpangan mencapai 24,43 persen pada 2024. Peningkatan ini menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal yang layak dan fasilitas rumah tangga yang memadai.
Selain itu, aneka komoditas dan jasa meningkat dari Rp172.313 menjadi Rp182.921 dengan proporsi 11,66 persen. Pakaian, alas kaki, dan tutup kepala juga tumbuh dari Rp34.484 menjadi Rp46.106 atau sekitar 2,94 persen dalam struktur nonpangan. Barang tahan lama seperti perabot rumah tangga dan elektronik juga menunjukkan peningkatan besar, dari Rp46.393 menjadi Rp73.057 dengan porsi 4,66 persen.
Kebutuhan untuk pesta dan upacara kenduri juga masih menjadi bagian dari pengeluaran warga, dengan nilai Rp43.569 pada 2024. Meski proporsinya kecil, sekitar 2,78 persen, hal ini menunjukkan kuatnya nilai sosial dan budaya di masyarakat Bitung.
Potret Ekonomi dan Gaya Hidup Warga Bitung
Kenaikan pengeluaran per kapita ini menjadi sinyal positif bahwa ekonomi masyarakat Bitung terus tumbuh. Peningkatan pada sektor nonpangan menunjukkan bahwa masyarakat mulai memiliki daya beli lebih luas, bukan hanya untuk kebutuhan pokok, tetapi juga untuk kebutuhan jangka panjang dan peningkatan kualitas hidup.
Meski demikian, pola penurunan pengeluaran pangan juga perlu dicermati. Di satu sisi menunjukkan pergeseran menuju masyarakat yang lebih sejahtera, tetapi di sisi lain perlu diwaspadai agar tidak berdampak pada ketahanan pangan dan keseimbangan gizi.
Secara keseluruhan, data BPS menggambarkan transformasi sosial ekonomi yang menarik di Kota Bitung. Dari dapur hingga rumah, dari konsumsi harian hingga investasi rumah tangga, masyarakat Bitung kini bergerak menuju pola konsumsi yang lebih modern dan rasional, seiring perkembangan kota pelabuhan ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara.(pr)
Editor : Pratama Karamoy