Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Ini Upaya KemenPUPR-Pemkot Atasi Banjir Manado. Praktisi-Akademisi Tawarkan Solusi

Desmi Babo • Senin, 30 Januari 2023 | 10:08 WIB
KOLABORASI: (dari kanan) Direktur Sungai dan Pantai Ditjen SDA Bob Lombogia, Walikota Manado Andrei Angouw dan Kepala BWSS I, I Komang Sudana saat berada di Bendungan Kuwil usai meninjau lokasi terdampak bencana banjir.
KOLABORASI: (dari kanan) Direktur Sungai dan Pantai Ditjen SDA Bob Lombogia, Walikota Manado Andrei Angouw dan Kepala BWSS I, I Komang Sudana saat berada di Bendungan Kuwil usai meninjau lokasi terdampak bencana banjir.
MANADOPOST.ID---Peristiwa banjir kembali melanda kota Manado Jumat (27/1). Meski demikian dampak daya rusak air di sepanjang Sungai Tondano dapat dikendalikan oleh Bendungan Kuwil Kawangkoan yang diketahui belum lama ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai pihak, keadaan terdampak parah ada pada daerah aliran Sungai Bailang dan Mahawu. Hal tersebut dibenarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Melalui Direktur Sungai dan Pantai, Ditjen SDA Bob Lombogia saat diwawancarai Manado Post di sela-sela peninjauan lokasi bencana hingga keadaan Bendungan Kuwil bersama dengan Walikota Manado Andrei Angouw kemarin (29/1). “Saya ditugaskan oleh Pak Menteri untuk melihat bencana alam yang terjadi di kota Manado pada tanggal 27 Januari. Dimana ada beberapa sungai yang meluap, yaitu sungai Bailang, Mahawu dan Tikala sehingga kami perlu lihat dan mengecek peran dari Bendungan Kuwil dalam melaksanakan pola pengoprasiannya dalam upaya pengendalian banjir. Karena Salah satu tujuan pembangunan Bendungan Kuwil adalah untuk mereduksi banjir pada Q-50 dengan kubikasi sampai dengan 146 meter kubik per detik, ” kata Lombogia. Lanjut katanya curah hujan yang tinggi mengakibatkan sungai Bailang dan Mahawu meluap, sedangkan sungai Tondano tidak meluap.
Photo
Photo
Tampak rumah-rumah di samping Sungai Bailang di Jembatan Cempaka Jalan Bailang Raya Kecamatan Bunaken dalam kondisi rusak berat akibat banjir yang melanda Kota Manado (27/1/2023). “Pada saat terjadi hujan, dari 6 Sungai yang ada di kota Manado yaitu sungai Bailang, Mahawu, Tondano, Tikala, Sario, Malalayang dan dari 6 Sungai yang melintas Kota Manado ini, pelayanan dari Bendungan Kuwil adalah DAS Tondano atau Sungai Tondano dimana pada bagian hilir nya ada sungai Tikala. Dari semua sungai yang ada, kita lihat konsentrasi hujan yang cukup tinggi dengan curah hujan 300 mm per hari itu (27/1) di bagian Kota Manado dimana kita lihat bersama bahwa sungai Bailang dan Sungai Mahawu yang meluap sedangkan Sungai Tondano relatif tidak meluap,” urai Lombogia. Dikatakan pula oleh direktur Sungai dan Pantai ini, jika tidak ada bendungan Kuwil Kawangkoan yang saat kejadian telah menampung 2,3 Juta kubik air, maka mungkin besar area dan keparahan pada peristiwa banjir besar tahun 2014 dapat terulang kembali. “Ada luapan air sedikit terjadi di Sungai Tikala yang merupakan anak dari sungai Tondano hal ini terjadi karena Bendungan Kuwil telah mereduksi debit banjir sampai dengan 96 meter kubik per detik di mana pada hari Jumat tersebut pada elevasi bendungan 96,6 maka ada 2 buah pintu ditutup. Kapasitas 1 buah pintu yaitu 143 meter kubik per detik. Pada saat pintu ditutup, maka terjadi kenaikan genangan di sini dari 96,6 menjadi 98,2 artinya hampir 2 meter ditampung adalah kurang lebih 2,3 juta meter kubik air. Bayangkan kalau 2,3 juta meter kubik air ini tidak kita tampung dan masuk ke Manado, maka banjir yang akan terjadi di sungai Tondano maupun di Sungai Tikala dapat seperti yang terjadi pada tahun 2014 di mana di Kantor Walikota air naik hingga tiga meter. Sekarang di area itu sudah tidak ada genangan itu berkat dari Bendungan Kuwil,” terang Lombogia. Lanjutnya curah hujan yang terjadi saat banjir ini jauh lebih tinggi dari  curah hujan saat bencana banjir tahun 2014 sehingga daya tampung air di Sungai Mahawu dan Bailang tidak mampu menampung sehingga terjadilah banjir di lokasi tersebut.
Photo
Photo
Tampak situasi tiga hari pasca banjir (29/1), masih tampak puing-puing yang belum dibersihkan oleh masyarakat Molas, Kecamatan Bunaken Kota Manado. “Banjir yang terjadi saat ini akibat curah hujan 300 mm artinya curah hujan yang terjadi saat ini, jauh lebih tinggi dari curah hujan yang terjadi pada 15 Januari 2014. Jadi hal tersebut yang menyebabkan terjadinya banjir. Namun banjir yang terjadi saat ini di Sungai Bailang, Mahawu dan Tikala karena kapasitas dari Sungai Mawahu tidak memadai demikian juga dengan Sungai Bailang. Kami sudah melihat sendiri bersama dengan Pak Wali bahwa lebarnya itu cuman 20 meter, Pak Wali juga mengatakan bahwa dengan lebar berapapun kayaknya tidak mampu. Tapi hal ini perlu kita kaji. Kenapa Sungai Mahawu dan Sungai Bailang meluap seperti itu, sebetulnya berapa debit yang terjadi, hal ini nanti kita kaji ke depan untuk mendapatkan langkah seperti apa yang akan diambil,” urai Lombogia. Sementara itu menurut Putra Daerah Sulut yang mantap dalam karir di Kementerian PUPR, solusi penanganan banjir terhadap tiga sungai yakni Tikala, Sario dan Tondano bahwa telah ada program pembangunan bangunan Pengendali Banjir melalui Bantuan Bank Dunia. “Untuk mengatasi banjir di Sungai Tikala, Sario dan Tondano, kita sudah Ada program bantuan loan NUFReP (National Urban Flood Resilience Project) dari World Bank dan Indonesia ada lima kota yang mendapat program salah satunya adalah kota Manado. Di mana kami telah mengusulkan program di tiga Sungai ini untuk dibangun tanggul makanya bangunan pengendali banjir. Nah untuk di Sungai Bailang dan Mahawu, belum ada sama sekali masterplan ataupun SID (survei, investigasi dan desain) terkait penanganannya apakah akan dilebarkan atau seperti apa, makanya akan kita kaji sebagai langkah kedepan,” tutur Lombogia Sementara itu terkait dengan solusi penanganan di bantaran sungai, Walikota Manado Andrei Angouw menyebutkan bahwa dirinya akan bertindak tegas terhadap warga yang bermukim di bantaran sungai. “Jadi kita mohon dukungan dari masyarakat untuk jangan tinggal di bantaran sungai. Karena kalau tinggal di bantaran, cerita banjir seperti ini akan berulang lagi yang kita upayakan yaitu tindakan persuasif, tapi harus tegas,” kata Angouw. Walikota pun menyebutkan bahwa bagi masyarakat yang sebelumnya telah mendapatkan rumah relokasi di Pandu (masyarakat terdampak banjir bandang 2014), maka diimbau untuk menempati rumah relokasi tersebut, tanpa harus menempati kawasan bantaran sungai. “Yang tinggal di bantaran sungai banyak. Banyak juga yang sudah dapat rumah di Pandu, tetap tinggal di bantaran sungai. Maka upaya utama yang akan kita lakukan yaitu kita pindahkan. Karena tidak bisa masyarakat tinggal di bantaran sungai. Jadi upaya grand strateginya, pemerintah harus menyediakan tempat tinggal. Baik rumah susun maupun rumah di Pandu dan yang harus kita dorong bahwa yang seharusnya sudah ada tempat tinggal di Pandu, sudah harus tinggal di Pandu,” jelas Angouw. Adapun disebutkan Angouw bahwa pada tahun ini, Pemkot akan melaksanakan program prioritas yakni menyiapkan fasilitas penunjang untuk kebutuhan masyarakat di Pandu. “Di Pandu ada 2.000 lebih rumah. Tapi yang tinggal hanya 400 an. Saat ini Pemkot lagi melengkapi fasilitas di Pandu. Kita sudah menyiapkan angkutan umum dan kita juga akan benahi supaya masyarakat mau tinggal di Pandu, sehingga program relokasi akan menjadi prioritas di tahun 2023. Apalagi dengan kejadian seperti ini kita sudah koordinasi dengan BNPB- BPBD karena kebetulan yang bangun itu adalah BPBD pada Tahun 2015,“ terang Walikota. Sementara itu, terpisah menurut praktisi dan pemerhati lingkungan Dr. Joy Albert Sumakul, PG.DipSc, MA ketika dimintai keterangan terhadap penyebab banjir, kepada Manado Post dia menguraikan bahwa curah hujan yang tinggi dengan intensitas yang lama mengakibatkan daya tampung sungai tidak mencukupi. “Jadi kan hujan yang lebat dan lama mengakibatkan tanah menjadi jenuh, maka tanah itu tidak bisa menyerap air lagi, sehingga air tergenang dan ketika turun ke sungai dan sungai juga penuh maka meluaplah air ini. Semakin lama, semakin besar meluapnya. Ini yang mengakibatkan banjir besar di Manado,” ungkap Alumnus The University of Queensland’s Australia ini. Ia-pun menjelaskan bahwa selain faktor alam, ada faktor prilaku manusia juga yang menyebabkan banjir tersebut. “Dengan maraknya pembangunan dengan tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan juga bisa menjadi penyebabnya, misalnya hutan lalu dibuat pemukiman. Budaya orang membuang sampah sembarang juga bisa jadi penyumbatan pada anak sungai juga bisa menjadi penyebabnya,” urai Sumakul Adapun dikatakan Ahli Rekayasa Lingkungan dari The University of Queensland’s Australia ini bahwa faktor yang sangat berpengaruh terhadap banjir yang terjadi yakni penyempitan area hilir sungai dan muara. “Ini karena hilirnya sungai ke kelaut laut semakin mengecil. Jadi, seperti di Jembatan Sukarno, jadi sungai disitu jadi Bottleneck, maka air susah keluar ke laut yang artinya terjadi penyumbatan disitu. Nah begitu juga saya lihat di Sungai Bailang ketika dibangun Jembatan Boulevard Dua, maka disitu juga terjadi bottleneck. Jadi jangan heran kalau yang sekarang banjirnya di situ sekarang jadi parah,” jelas Sumakul. Saat dimintai solusinya, Master of Arts dari Mohidol University Thailand ini mengatakan bahwa dibutuhkan muara sungai baru untuk menuju ke laut. “Jadi kan di muara sungai menuju ke laut, di sungai Tondano dan Sungai Bailang itu sudah dibuat jembatan, jadi sudah tidak bisa diperlebar. Maka solusinya pemerintah harus membuat muara baru di sampingnya. Jadi di sungai itu harus ada dua muara sungai menuju ke laut jadi dibuat seperti turusan atau sodetan. Maka airnya akan lebih mudah mengalir dari hulu ke hilir laut. Maka langkah pertamanya, pemerintah harus bebaskan lahan untuk jalur sungai baru di sebelah jembatan itu. Kan Kalau ada dua jalur menuju ke laut maka kemungkinan banjir akan berkurang karena air sudah lancar ke laut, tidak tertahan lagi di muaranya,” terang Sumakul.
Photo
Photo
Tampak Ilustrasi Teknologi Modifikasi Cuaca bisa mengatasi banjir dengan merekayasa titik hujan untuk dipindahkan di laut dengan memperhatikan faktor gejala alam pengaruh gravitasi bulan dan matahari, pasang surut air laut.
Waspada saat bulan baru atau bulan purnama karena air laut akan pasang.
Gambar lain: dibuatkan sodetan/terusan/ muara baru. Ia pun mengatakan bahwa pencegahan banjir juga dapat dilakukan dengan rekayasa teknologi yang sudah ada sekarang, tinggal bagaimana mengaplikasikannya. “Sebenarnya sudah ada metodenya yaitu Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), dan itu sudah digunakan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 lalu. Dimonitor pergerakan awanya dan dipindahkan ke laut itu hujannya. Jadi ditaburi garam untuk percepat hujan, sehingga hujan tidak terjadi di darat. Jadi kan kalau hujanya di laut pasti tidak banjir kan," kata Sumakul. Hal yang sama juga diuraikan Prof Dr Treesje K Londa MSi. Peneliti sekaligus Pemerhati Lingkungan ini menyebutkan bahwa banjir di Manado disebabkan oleh masalah yang kompleks, yakni akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan sementara tempat untuk serapan air sangat minim. “Pada saat hujan, terjadi peningkatan volume air permukaan sehingga daya serap tanah tidak berfungsi lagi akibat betonisasi, drainase tersumbat sampah dan tertutup gulma dan sedimentasi. Akibatnya, dikala curah hujan tinggi, terjadilah banjir akibat tergenangnya air di mana-mana,” Kata Londa kepada Manado Post. Ia pun memberikan solusi agar pemerintah dapat menseriusi kasus banjir yang kerap terjadi secara rutin di Manado. “Solusinya yang paling utama adalah keseriusan pemerintah terhadap komitmen dalam upaya mengelola lingkungan hidup termasuk upaya mengatasi banjir, jangka pendek dan jangka panjang. Program pemerintah sudah ada, tapi sangat dibutuhkan yaitu keseriusan terhadap komitmen pemerintah dalam mengelola lingkungan hidup di wilayahnya. Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan masukan-masukan para akademisi, peneliti dan pemerhati lingkungan hidup,” tegas Londa yang juga merupakan Dosen Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado. Sementara itu, Dr Sunny Rumawung, Ketua Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK) Sulut sekaligus Pemerhati Lingkungan, menyebutkan bahwa ketika Bendungan Kuwil telah diresmikan, tapi Kota Manado masih banjir akibat hujan deras yang mengguyur sejak (27/1) subuh, maka langkah yang perlu dilakukan pemerintah Provinsi bahkan Kota Manado yakni menormalisasi sungai. “AMAK meminta kepada Pemprov Sulut maupun Pemkot Manado untuk segera melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap pemukiman-pemukiman warga disekitar bantaran sungai dengan melakukan normalisasi terhadap sungai-sungai besar maupun anak-anak sungai yang masuk ke Kota Manado,” kata Sunny. Ia pun mengimbau agar langkah cepat perlu dilaksanakan pemerintah untuk mengatasi dampak curah hujan yang notabene merugikan masyarakat. “Pengerukan sungai-sungai tersebut sudah harus secepatnya dilakukan agar banjir tidak terjadi lagi. Apalagi selama ini Manado sering dilanda banjir ketika masuk musim penghujan tiba. Harusnya ini harus diatasi sedini mungkin agar tidak merugikan masyarakat,” tambah Ketua AMAK  sekaligus pemerhati lingkungan ini. Ia juga mendesak agar pembuatan talud sebagai pengendali banjir dan longsor harus segera direalisasikan oleh pemerintah. “Demikian juga dengan pembuatan talud di sungai-sungai dan di tebing-tebing yang rawan longsor agar dipercepat. Karena selain banjir, Manado juga terkenal dengan rawan longsor yang bahkan sering mengakibatkan korban jiwa bagi penduduk yang mendiami daerah-daerah rawan tersebut,” pungkas Rumawung. Sebelumnya, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I (BWSS I) Ir I Komang Sudana MT, juga menyebutkan bahwa banjir yang terjadi diakibatkan oleh curah hujan yang ekstrim. “Jadi seperti yang sudah dirilis oleh BMKG curah hujannya ekstrim dan menyebar merata di seluruh wilayah Sulut,” kata Sudana. Ia pun menguraikan beberapa langkah sebagai tidak lanjut yang akan dilaksanakan oleh BWS Sulawesi I dalam penanganan bencana banjir tersebut. “Sebagai jangka pendek kita rutin akan terus menormalisasi Sungai Tikala, Sario dan Tondano. Kedua, melakukan pola pengoperasian bendungan serta kita akan koordinasi untuk perbaikan pola buangan air. Bukan hanya sungai tapi saluran pembuangan dari permukiman juga harus diatur sehingga kita berupaya untuk mengendalikan banjir ini,” terang Sudana. Ia pun mengajak agar keterlibatan aktif semua pihak diimbau untuk dapat mengendalikan banjir secara menyeluruh. “Keterlibatan dari semua pihak itu solusinya. Sebagai langkah jangka panjang untuk pengendalian banjir Manado pun telah diprogramkan di BWSS I melalui Pembangunan Bangunan Pengendali Banjir dengan bantuan Bank Dunia NUFReP yang sementara berproses pembebasan lahannya di BPN,” pungkasnya. (Desmianti Babo)  Editor : Desmi Babo
#BWS Sulawesi I #Curah Hujan Tinggi #Teknologi Modifikasi Cuaca #Kementerian PUPR #BMKG Sulut