Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Resto Bakudapa Paula, Pelopor Rumah Makan Minahasa ‘Ambe Sendiri’ di Jakarta

Foggen Bolung • Senin, 3 Februari 2025 | 18:20 WIB

 

Paula Feibe Tualangi (tengah) bersama karyawan Resto Bakudapa Paula di bilangan Gambir, Jakarta Pusat.
Paula Feibe Tualangi (tengah) bersama karyawan Resto Bakudapa Paula di bilangan Gambir, Jakarta Pusat.

MANADOPOST.ID—“Mari Sayang, napa piring. Ambe sendiri jo ne. Jangan dulu pulang kalau belum kenyang...” Begitulah ajakan makan di Resto Bakudapa Paula, rumah makan khas Minahasa di bilangan Gambir, Jakarta Pusat, yang menjadi perintis konsep ‘Ambe Sendiri’ di ibu kota.

Terletak di halaman GPIB Immanuel, Gambir, Jakarta Pusat, Resto Bakudapa Paula kerap menjadi tujuan Kawanua yang rindu masakan Minahasa (non-halal). Dari tinoransak, babi rica, babi kecap, hingga sup brenebon, semuanya tersaji dengan bumbu otentik dan rempah-rempah khas Minahasa. Kokinya pun didatangkan langsung dari Sulawesi Utara. Tak heran jika setiap hari tempat ini selalu ramai pengunjung.

Buka Senin hingga Sabtu dan tutup di hari Minggu atau libur nasional, resto ini juga menjadi langganan tokoh-tokoh Kawanua di Jakarta, termasuk Gubernur Sulawesi Utara terpilih, Yulius Komaling.

Paula Feibe Tualangi, pemilik Resto Bakudapa Paula kepada Manado Post, menceritakan bagaimana dirinya merantau ke Jakarta hingga merintis usaha yang kini memiliki dua cabang di ibu kota.

“Sekitar 28 tahun lalu saya merantau ke Jakarta untuk bekerja. Awalnya sebagai beauty consultant, lalu sempat menjadi agen asuransi sebelum akhirnya mencoba peruntungan di bisnis kuliner. Waktu itu, saya membuka Resto & Café Bakudapa di daerah Menteng, Jakarta Pusat,” kenang istri dari almarhum dr. Arry F. Ramba.

Pada awal 2000-an, Resto & Café Bakudapa mulai dikenal sebagai rumah makan Manado dengan menu andalan seperti ikan bakar. Namun, usaha itu harus tutup karena situasi yang tidak kondusif saat itu.

“Setelah Resto & Café Bakudapa tutup, saya memulai kembali dengan Resto Bakudapa Paula. Awalnya masih menggunakan sistem menu per porsi. Baru pada 2022, konsep ‘ambe sendiri’ kami terapkan,” jelas perempuan kelahiran 2 Februari 1970 ini.

Perubahan konsep ini adalah ide almarhum suaminya. “Dia bilang, rumah makan tradisional Minahasa dengan konsep all you can eat atau ‘ambe sendiri’ belum ada di Jakarta. Kenapa tidak dicoba?” tutur Paula.

Hasilnya di luar dugaan. Konsep baru ini langsung disambut baik oleh pelanggan. Resto ini viral di media sosial, diulas oleh banyak food influencer, dan setiap hari pengunjungnya membludak.

“Sekarang, di dua cabang, total pengunjung bisa mencapai 500 orang per hari. Kadang malah lebih,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, kebutuhan bahan makanan juga melonjak. Resto Bakudapa Paula kini menghabiskan 150–200 kg daging babi setiap hari. “Kalau ada momen tertentu, bisa lebih,” katanya.

Untuk menjaga cita rasa otentik, Paula hanya memperkerjakan orang Manado. “Total ada 16 karyawan, empat di antaranya koki. Mereka semua asli Manado, jadi rasa makanannya tetap khas,” ujarnya.

Selain rasa dan harga yang terjangkau, hanya Rp60 ribu per orang, Paula menekankan bahwa kunci sukses restonya ada di pelayanan.

“Kami ingin setiap pengunjung merasa nyaman, seperti makan di rumah sendiri. Semua karyawan, termasuk saya, menyapa pelanggan dengan ramah, seperti orang Minahasa yang selalu menyambut tamu di rumahnya,” katanya.

Sapaan khas seperti “sayang” sering digunakan untuk menciptakan keakraban. “Itulah yang membuat orang betah dan ingin kembali lagi,” tambahnya.

Saat ini, cabang di Gambir buka dari pagi hingga pukul 18.00, sementara cabang di Pasar Baru buka hingga pukul 21.00. “Kami juga berencana buka cabang baru di Jakarta Utara. Tungguin yah!” tutup Paula.(fgn)

Editor : Foggen Bolung
#Kuliner Manado #Kuliner Minahasa #Resto Bakudapa Paula