MANADOPOST.ID—Jakarta, kota yang identik dengan pernikahan modern dan internasional, baru saja menyaksikan sebuah perayaan yang berbeda. Di tengah tren gaun pengantin putih dan setelan jas, Raden Syah Putra Alam dan Ester Magdalena Kembuan justru tampil gagah dalam balutan busana Kabasaran, pakaian perang tradisional suku Minahasa.
Menariknya, pasangan yang baru saja dipersatukan dalam pernikahan pada Sabtu (1/2) pekan lalu ini berasal dari latar belakang budaya yang berbeda. Alam adalah lelaki Jawa, sedangkan Ester berdarah Minahasa.
“Saya sendiri tidak menyangka, justru suami yang bukan orang Minahasa yang mengusulkan konsep ini,” kata Ester kepada Manado Post. “Di Sulawesi Utara, konsep ini sudah biasa, tapi di Jakarta, mungkin belum ada yang menikah pakai Kabasaran di acara resepsi,” lanjut Ester yang asli Langowan ini.
Resepsi pernikahan mereka menggabungkan unsur budaya dan sejarah. Tidak hanya pengantin, total 21 anggota keluarga dan kerabat juga mengenakan busana Kabasaran, menciptakan suasana yang megah dan penuh kejutan bagi para tamu undangan.
Pernikahan ini berawal dari kesepakatan untuk menggabungkan dua budaya. Karena Alam berasal dari Malang, mereka memilih adat Jawa untuk pemberkatan. Namun, saat mulai membahas resepsi, Alam bertanya kepada Ester tentang budaya Minahasa.
“Aku tanya ke istri, adat Minahasa ada apa saja? Lalu dia cerita tentang Maengket, Kabasaran, dan lainnya. Dari situ aku langsung tertarik sama Kabasaran. Saya suka sesuatu yang etnik dan unik. Kabasaran itu beda sendiri, pakai tengkorak, aksesori burung, parang, dan unsur budaya yang kuat,” cerita Alam.
Ketertarikannya terhadap Kabasaran semakin dalam setelah ia melakukan riset sendiri. Ia membaca sejarahnya, menonton video tarian Kabasaran, hingga mencari tahu makna di balik setiap elemennya.
“Awalnya aku hanya kasih informasi dasar, tapi suami yang justru menelusuri lebih jauh,” ujar Ester. “Bahkan dia lebih tahu detailnya daripada aku,” tambahnya.
Alam pun melihat kesamaan antara Kabasaran dengan hobinya yang lain, yaitu dinosaurus dan era Jurassic.
“Dari kecil saya suka dunia purba, terutama dinosaurus. Waktu lihat Kabasaran dengan tengkorak dan aksesori khasnya, saya langsung kepikiran konsep Jurassic Wedding Party,” ujarnya. “Kalau tema pernikahan kami soal zaman dahulu, maka bajunya juga harus ‘zaman dahulu’. Saya rasa ini konsep yang segar, sesuatu yang belum pernah ada di Jakarta,” sebutnya.
Meski bersemangat, meyakinkan keluarga bukan hal yang mudah.
“Awalnya mereka heran, ‘Masa nikah pakai baju perang?’. Tapi setelah dijelaskan maknanya, mereka akhirnya mendukung. Bahkan bude-bude saya yang awalnya ragu akhirnya ikut pakai,” kisah Alam.
Tantangan lain adalah menemukan penyedia busana Kabasaran di Jakarta. Setelah mencari referensi dari mesin pencarian, media sosial, hingga komunitas Kawanua, mereka akhirnya menemukan Sanggar Bapontar, sanggar ternama yang sering menangani acara budaya Minahasa.
“Kami cari yang benar-benar paham maknanya, bukan hanya sekadar menyewakan kostum,” kata Alam. “Apalagi setelah tahu sanggar ini pernah mendesain baju untuk Kaesang, makin yakin buat sewa di sana,” timpal Ester.
Saat hari H tiba, pengantin dan keluarga langsung menarik perhatian sekira 200 tamu yang hadir.
“Respons keluarga, kerabat, dan tamu semua kaget karena konsep ini memang tidak kami bocorkan dulu,” ujar Ester. “Bahkan bridal dan vendor pun tak menyangka,” lanjutnya.
Beberapa tamu asal Minahasa juga memberikan komentar mengejutkan.
“Ada yang bilang, ‘Orang Manado aja belum tentu nikah pakai Kabasaran, kok kalian malah pakai?’” cerita Alam. “Saya anggap ini sebagai terobosan, sesuatu yang mungkin bisa menginspirasi pernikahan lain,” sambungnya.
Mengenakan busana Kabasaran juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Alam yang bukan orang Minahasa.
“Sebenarnya, lebih sulit pakai baju adat Jawa dibanding Kabasaran. Tantangannya cuma beratnya aksesori, karena banyak ornamen seperti gemerincing dan parang,” katanya.
Namun, bagi Alam, pemilihan konsep ini bukan sekadar soal busana, tetapi juga nilai yang mereka bawa dalam pernikahan.
“Dengan memakai baju ini, saya jadi mengerti bahwa warna merahnya melambangkan semangat tiada akhir. Semangat yang dimaksud di zaman itu adalah melindungi keluarga dan suku. Nah, semangat itu yang akan kami bawa ke bahtera rumah tangga,” tambahnya.
Sementara bagi Ester, melihat suaminya mengenakan pakaian adat Minahasa menjadi momen yang membanggakan.
“Melihat suami pakai Kabasaran, rasanya bangga banget. Dia bukan orang Minahasa, tapi mau menerima dan bahkan mengusulkan ini sendiri,” katanya.
Melalui pernikahan ini, mereka ingin menyampaikan pesan kepada pasangan lain yang sedang merencanakan pernikahan.
“Berekspresilah,” kata Ester. “Tidak ada yang salah membawa hobi atau budaya ke dalam konsep pernikahan. Yang penting disepakati kedua pasangan dan keluarga.”
Alam menambahkan bahwa yang paling penting adalah memikirkan dampaknya.
“Kalau sudah yakin, eksekusi dan nikmati hasilnya. Dan yang paling penting, bertanggung jawab atas pilihan masing-masing,” ujarnya.
Di Jakarta, konsep pernikahan adat sering kali bergeser ke arah modern. Namun, pernikahan Alam dan Ester membuktikan bahwa budaya tetap bisa diangkat, bahkan dengan cara yang segar dan kreatif.
“Tidak perlu takut mengangkat budaya sendiri, walau jauh dari kampung halaman,” kata Ester. “Jika dilakukan dengan rasa bangga dan menghormati nilai-nilainya, budaya akan tetap hidup, bahkan di perantauan” tambahnya.
Mereka pun mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan wedding dream mereka. Mulai dari vendor-vendor hingga tim kreatif dari PT Triyasa Kreasi Bersama (TRYS), tempat Alam bekerja.
“Yang pasti, acara ini, wedding dream kami tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan dari semua yang terlibat,” pungkas Alam.
Alam dan Ester mungkin bukan pasangan pertama yang mengenakan adat Minahasa dalam pernikahan mereka. Namun, di Jakarta, pernikahan dengan busana Kabasaran dalam resepsi bisa jadi yang pertama. Dan mungkin, ini bisa membuka jalan bagi pasangan lain untuk berani menampilkan identitas budaya mereka dengan bangga.(fgn)
Editor : Foggen Bolung