MANADOPOST.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat Indonesia akan potensi gempa megathrust yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Sulawesi Utara.
Dalam unggahan resmi BMKG di Instagram pada 20 Juni 2025, dijelaskan bahwa Indonesia memiliki beberapa zona megathrust yang merupakan titik pertemuan antar lempeng tektonik dan berpotensi menyimpan energi besar.
“Kalau energi ini lepas, bisa menimbulkan gempa besar, bahkan tsunami. Tapi apakah bisa diprediksi kapan terjadinya?” tulis BMKG dalam unggahannya.
BMKG juga mengajak masyarakat untuk memahami apa itu megathrust, mengapa harus waspada, serta fakta penting lainnya mengenai potensi gempa besar.
Unggahan tersebut langsung mengundang respons netizen. Salah satu komentar yang menarik perhatian berbunyi, “Tiba-tiba keluar postingan gini lagi,” yang menunjukkan kekhawatiran terhadap potensi bencana.
Apa Itu Megathrust dan Mengapa Perlu Waspada?
Zona megathrust adalah wilayah pertemuan dua lempeng tektonik dan salah satunya menyusup kebawah yang lain.
Dalam proses ini, terjadi penumpukan energi yang suatu saat bisa dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa besar, yang berpotensi disertai tsunami.
Banyak orang salah paham tentang prediksi gempa. Hingga saat ini, tidak ada teknologi yang dapat memprediksi secara pasti kapan, di mana, dan seberapa kuat gempa akan terjadi
Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda awal gempa, memahami jalur evakuasi, serta mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa.
Respons BMKG atas Kekhawatiran Publik
Menanggapi berbagai pertanyaan dari masyarakat, BMKG menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada sistem yang bisa memprediksi secara akurat kapan gempa akan terjadi.
Semua analisis hanya dapat dilakukan setelah gempa berlangsung. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu memperoleh informasi dari sumber resmi yang sudah terverifikasi, seperti kanal komunikasi BMKG.
BMKG juga menjawab pertanyaan terkait potensi megathrust di wilayah Jawa Timur dan kawasan seperti Sawangan, Depok, serta Wonogiri. Intinya, semua informasi resmi hanya disampaikan setelah dilakukan kajian ilmiah pascagempa.
Bagaimana dengan Sistem Peringatan Dini di Indonesia?
Saat ini, aplikasi Info BMKG hanya menyediakan notifikasi untuk kategori cuaca dan tsunami, sementara peringatan dini untuk gempa bumi belum tersedia karena gempa tidak dapat diprediksi.
Namun, BMKG menyediakan notifikasi gempa setelah kejadian melalui aplikasi yang bisa diunduh di Playstore maupun App Store.
Menanggapi pertanyaan tentang sistem peringatan dini seperti di Jepang, BMKG menjelaskan bahwa Jepang sudah menggunakan sistem yang mampu mengidentifikasi gelombang seismik awal yang merambat lebih cepat.
Dengan sistem tersebut, warga Jepang dapat menerima peringatan sekitar satu menit sebelum gempa utama terasa.
Indonesia juga sedang mengembangkan sistem serupa bernama EEWS (Earthquake Early Warning System).
Meski begitu, BMKG mengakui bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi sebelum dirilis ke masyarakat, misalnya sistem jaringan komunikasi, keakuratan hasil peringatan dini, serta kerapatan sensor untuk menangkap sinyal gempa.
Saat ini, Indonesia telah memiliki 504 seismometer yang digunakan untuk pemantauan aktivitas gempa.
Imbauan dan Langkah Antisipasi
Jika terjadi gempa megathrust, BMKG menyarankan masyarakat untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat terkait jalur evakuasi dan langkah penyelamatan diri.
Dalam unggahan Instagram tersebut, BMKG juga menampilkan peta zona megathrust di Indonesia dan mengingatkan bahwa beberapa segmen megathrust belum melepaskan energi sejak ratusan tahun lalu.
Sebagai contoh, segmen Selat Sunda terakhir kali melepaskan gempa besar pada tahun 1757, sedangkan segmen Mentawai-Siberut belum aktif sejak tahun 1797.
Kondisi ini disebut sebagai "seismic gap", yakni wilayah yang menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak mengalami pelepasan energi.
"Meskipun belum terjadi, potensi itu nyata dan harus kita waspadai,” tulis BMKG.
Berikut Potensi magnitudo gempa megathrust:
-
Megathrust Aceh-Andaman: Potensi gempa Magnitudo 9.2
-
Megathrust Nias-Simeulue: Potensi gempa Magnitudo 8.7
-
Megathrust Batu: Potensi gempa Magnitudo 7.8
-
Megathrust Mentawai-Siberut: Potensi gempa Magnitudo 8.9
-
Megathrust Mentawai-Pagai: Potensi gempa Magnitudo 8.9
-
Megathrust Enggano: Potensi gempa Magnitudo 8.4
-
Megathrust Selat Sunda: Potensi gempa Magnitudo 8.7
-
Megathrust West-Central Java: Potensi gempa Magnitudo 8.7
-
Megathrust East Java: Potensi gempa Magnitudo 8.7
-
Megathrust Sumba: Potensi gempa Magnitudo 8.5
-
Megathrust Sulawesi Utara: Potensi gempa Magnitudo 8.5
-
Megathrust Philippine: Potensi gempa Magnitudo 8.2
-
Megathrust Papua: Potensi gempa Magnitudo 8.7
---
Gempa megathrust memang belum dapat diprediksi kapan terjadinya, namun potensinya nyata dan serius.
Masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan, mengikuti informasi resmi dari BMKG, serta memahami jalur evakuasi dan cara penyelamatan diri.
Khususnya untuk warga di Sulawesi Utara dan daerah rawan lainnya, kewaspadaan harus selalu dijaga karena potensi gempa besar bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan.
Tuhan jaga, Tuhan lindungi Indonesia, Tuhan lindungi Sulut. (*)
Editor : Tina Mamangkey