MANADOPOST.ID – Indonesia menggandeng para pakar dari Monash University untuk merancang dan membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota berkelanjutan yang tanggap air. Langkah ini menjadi jawaban atas tantangan lingkungan serius di Jakarta, mulai dari banjir, penurunan muka tanah, hingga kemacetan lalu lintas.
Melalui Monash Art, Design & Architecture (MADA) dan dukungan Bank Pembangunan Asia (ADB), para ahli memberikan pelatihan khusus bagi anggota Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) yang memimpin pembangunan di IKN. Program ini berlangsung hingga Oktober 2025 dengan format lokakarya, modul daring, serta pendampingan lapangan untuk memperkuat konsep pembangunan kota yang tahan terhadap krisis air dan perubahan iklim.
Kerja sama ini turut didukung Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) melalui Program Bantuan Infrastruktur Berkelanjutan (Fase 2). Sejak 2023, ADB sendiri telah aktif menjalankan program bantuan teknis guna memperkuat perencanaan dan pembangunan IKN.
“Konsep kota tanggap air telah sukses diterapkan di berbagai kota di Australia dan dunia untuk mengelola air dalam menghadapi banjir, kekeringan, dan polusi. Penerapan konsep ini bahkan menjadi dasar bagi program sponge cities di Tiongkok serta Active, Beautiful, Clean Waters di Singapura,” jelas Profesor Tony Wong dari Monash University.
Kota tanggap air atau sponge cities mengandalkan infrastruktur hijau, seperti lahan basah (wetlands), saluran dangkal (swales), kolam retensi, hingga perkerasan berpori. Infrastruktur tersebut berfungsi meniru proses alami penyaringan, drainase, dan penyimpanan air sehingga dapat mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Sementara itu, Profesor Diego Ramírez-Lovering dari Monash University menegaskan pentingnya integrasi manusia, alam, dan lingkungan buatan dalam perencanaan pembangunan kota baru. “Kami ingin membangun keterampilan, pengetahuan, serta koneksi antar lembaga untuk merancang kota tanggap air yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, IKN siap menghadapi tantangan polusi, kekeringan, banjir, hingga panas ekstrem di masa depan,” ujarnya.
Program pelatihan strategis ini melibatkan perwakilan dari berbagai departemen OIKN, mulai dari Perencanaan dan Pertanahan, Lingkungan dan Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Fasilitas, hingga Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat, bersama Kementerian Pekerjaan Umum.
Kolaborasi Monash University, ADB, dan pemerintah Australia ini menandai langkah penting dalam memperkuat kapasitas kelembagaan serta menghadirkan keahlian strategis untuk pembangunan IKN sebagai kota masa depan Indonesia yang berkelanjutan dan tanggap air.(ame)
Editor : Amelia Beatrix