MANADOPOST.ID - Cuaca di berbagai wilayah Indonesia kembali menunjukkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa hari ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa peningkatan curah hujan ini dipicu oleh kombinasi fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal yang berlangsung cukup aktif.
Peningkatan Hujan Dipengaruhi Fenomena Atmosfer
Dalam beberapa hari terakhir, hujan lebat hingga sangat lebat terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jabodetabek, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kalimantan Tengah, hingga Nusa Tenggara Barat. Kondisi ini bukan tanpa sebab.
BMKG mencatat beberapa faktor pemicu, antara lain:
1. Indian Ocean Dipole (IOD) Negatif
IOD negatif memberi dampak signifikan pada peningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat. Kondisi ini memicu pertumbuhan awan hujan terutama di wilayah Sumatra.
2. Sirkulasi Siklonik di Selatan Jawa
Sirkulasi yang persisten di perairan selatan Jawa turut meningkatkan potensi hujan di sebagian besar Jawa.
3. Gelombang Atmosfer Aktif
Aktivitas Gelombang Kelvin, MJO (Madden–Julian Oscillation), dan Gelombang Rossby turut memperkuat proses pembentukan awan hujan, didukung oleh kelembapan yang sangat tinggi dan atmosfer yang cukup labil.
Dinamika Atmosfer Sepekan Ke Depan
BMKG memperkirakan kombinasi fenomena atmosfer global, regional, dan lokal ini masih akan berlanjut hingga 27 November 2025.
Beberapa indikator penting yang perlu diperhatikan:
• Dipole Mode Index (DMI): −0.99
Berpotensi menambah pembentukan awan hujan di pesisir barat Sumatra.
• La-Nina Lemah
Indeks Nino 3.4 sebesar −0.95 dan SOI +15.9, mendukung peningkatan hujan di Indonesia bagian timur.
• Penguatan Monsun Asia
Menambah aliran uap air dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia.
• MJO Fase 6 (Western Pacific)
Aktif terutama di Sumatra dan Kalimantan bagian utara.
• Siklon Tropis “FINA”
Berada di selatan Pulau Tanimbar. Meski bergerak menjauh, dampak gelombang tinggi hingga 4 meter berpotensi masih terjadi di Laut Arafura bagian barat dan tengah.
Periode 24 – 27 November 2025: Banyak Wilayah Berpotensi Hujan
Secara umum, cuaca diprediksi didominasi berawan hingga hujan ringan, namun sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan mencakup:
-
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah dan Papua.
Wilayah Siaga (Hujan Lebat – Sangat Lebat):
- Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Papua Pegunungan
Angin Kencang :
-
Nusa Tenggara Timur, Maluku
Imbauan BMKG
Untuk menghindari risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, pohon tumbang, dan longsor, masyarakat diminta untuk:
-
Menghindari area terbuka saat terjadi hujan lebat disertai petir atau angin kencang.
-
Menjauhi pohon besar dan bangunan yang rapuh.
-
Rutin memantau informasi resmi BMKG, melalui aplikasi infoBMKG, website, maupun akun media sosial @infoBMKG.
-
Tetap tenang, siaga, dan memahami rute evakuasi jika terjadi kondisi darurat.
---
Prakiraan BMKG untuk sepekan ke depan (24 – 27 November 2025) menunjukkan potensi cuaca ekstrem yang meluas di Indonesia.
Tujuh provinsi berada pada tingkat Siaga Hujan Lebat-Sangat Lebat, sementara hampir seluruh provinsi lainnya berpotensi Hujan Sedang.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, genangan, dan tanah longsor. (*)
Editor : Tina Mamangkey