MANADOPOST.ID - Minat kaum muda di Indonesia untuk berprofesi sebagai guru terus menunjukkan penurunan yang signifikan. Survei terbaru menunjukkan bahwa hanya sekitar 11 persen anak muda yang menyatakan berminat untuk menjadi guru.
Lebih jauh, sebagian besar dari mereka tidak memilih profesi ini karena panggilan hati atau kecintaan terhadap dunia pendidikan. Sebaliknya, banyak yang memilih guru karena keterbatasan pilihan pekerjaan lain — bukan karena keyakinan terhadap masa depan profesi tersebut.
Beragam alasan melatarbelakangi turunnya minat ini. Pertama, ada persepsi bahwa menjadi guru kini tidak menawarkan kesejahteraan atau jenjang karier yang menarik, terutama dibandingkan dengan profesi lain di sektor swasta. Hal ini membuat generasi muda cenderung enggan mengejar karier di dunia pendidikan.
Kedua, minimnya penghargaan — baik secara sosial maupun profesional — turut memperburuk citra profesi guru. Upah yang dianggap belum memadai, penghargaan yang kurang terasa, serta masa depan yang tidak pasti membuat banyak orang muda enggan memilih jalur tersebut.
Ketiga, meskipun kebutuhan akan guru cukup besar, regenerasi tenaga pendidik dari generasi muda semakin menyusut. Kondisi ini bisa menjadi ancaman serius bagi kualitas dan pemerataan pendidikan di masa depan, terutama di daerah terpencil atau wilayah dengan akses pendidikan minim.
Jika tren ini terus terjadi tanpa penanganan serius, beban akan semakin berat bagi guru-guru yang ada sekarang. Bisa jadi kita akan melihat menurunnya kualitas pendidikan, makin besarnya kesenjangan akses pendidikan, dan semakin sulitnya memenuhi kebutuhan guru di seluruh Indonesia.
Beberapa pihak menyuarakan bahwa solusi jangka panjang harus melibatkan upaya meningkatkan kesejahteraan dan penghargaan terhadap profesi guru secara nyata — baik melalui tunjangan, insentif, pelatihan, maupun karier yang lebih jelas. Selain itu, kampanye sosial untuk mengembalikan martabat guru sebagai profesi mulia sangat diperlukan agar generasi muda melihat profesi ini kembali sebagai pilihan yang menarik, terhormat, dan penuh arti.
Dengan langkah nyata seperti ini, bukan tidak mungkin generasi muda nantinya kembali memandang guru bukan sekadar pekerjaan — tetapi panggilan untuk membangun masa depan bangsa. (*)
Editor : Jasinta Bolang